content='7496bf2686970bfa' name='yandex-verification'/>

Thursday, November 7, 2019



Akhirnya tiba waktunya bagi anak kami Kathleen untuk masuk ke Kinderkrippe. Kathleen mulai masuk Krippe saat awal Juni, dan terus terang proses adaptasi Kathleen di Kinderkrippe masuk kategori sulit, ditambah dengan berbagai drama yang membuatku merasa sedih dan melankolis sebagai maminya.


Kathleen saat awal2 sekolah

Proses adaptasi di Kinderkrippe atau kindergarten, disebut Eingewöhnungszeit. Anak-anak harus terbiasa dengan lingkungan baru, teman baru, dan Erzieherin (pengasuh). Biasanya masing-masing anak membutuhkan masa adaptasi yang  berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Ada yang hanya 2 minggu, 3 minggu, bahkan ada yang sampai 1 bulan.  


Metode Eingewöhnungszeit disetiap KITA memiliki peraturan yang berbeda-beda, tetapi pada dasarnya memiliki schedule yang kurang lebih sama. Ada waktu berkumpul bersama sebelum sarapan, bernyanyi dengan gerakan, doa pagi, sarapan pagi bersama, ada waktu makan siang bareng, waktu kapan harus diantar, dan kapan harus dijemput, 


KITA di Jerman lebih banyak bermainnya,  baik diluar atau didalam ruangan. Di Jerman ada tiga durasi waktu: 25 Stunden Wöchentlich atau 25 jam per minggu (tidak termasuk sabtu-minggu), sianak berada di KITA selama 5 jam sehari. 35 Stunden Wöchentlich atau 35 jam perminggu, sianak berada di KITA setidaknya 6 jam perhari. 45 Stunden Wöchentlich atau 45 jam perminggu, sianak berada di KITA setidaknya 7 jam perhari. Jenis yang 25 jam biasanya jarang sekali untuk anak usia 3 tahun keatas. 

Hari 1, masuk KITA pkl.  09:00 

Waktu itu KITA group Kathleen mengadakan bermain diluar kelas, pergi ke taman kota dengan menggunakan traktor. Papanya yang menemani kathleen selama 2 jam bermain diluar. Nah di Hari 1 ini, Kathleen lebih suka mau pergi kemana saja yang dia suka, seperti saat dia bermain ke taman bersama papa dan momynya. Kalau diajak untuk bergabung pasti dia pergi. Kathleen masih takut-takut berbaur bersama teman lainnya, padahal teman-temannya mau bermain bersama Kathleen.

Hari ke 2, masuk KITA pkl.  09:00 

Dihari kedua aku dan Silvio datang ke KITA untuk menemani Kathleen selama di Krippe sampai pukul 11 siang. Sambil membawa semua kebutuhan Kathleen selama berada di Krippe, mulai dari hausschuhe sampai pakaian dan diapers. (untuk keterangan lengkapnya kalian bisa lihat diblogku sebelumnya). 

Dihari kedua ini Kathleen tidak ikut aktifitas makan pagi ataupun makan siang, hanya 2 jam berada di KITA. Aku dan Silvio hanya duduk disudut ruang, melihat Kathleen mulai bermain bersama teman-teman barunya. Aku tidak lama berada di Krippe, karena harus pulang untuk packing untuk liburan, dan papanya tinggal menemani kathleen sampai siang.

Dihari ke2 sianak memang total ditemani salah satu orang tua, baik saat si anak bersosialisasi didalam maupun saat bermain diluar ruangan, dihari ke2 ini semuanya berjalan lancar.

Jeda 1 Minggu Liburan ke Vienna

Setelah pulang liburan dari Vienna di hari selasa, seharusnya Kathleen mulai masuk krippe lagi hari kamis, setelah istirahat 1 hari dirumah. Tapi Kathleen tidak bisa berangkat ke Krippe karena sakit panas dan batuk. kami memutuskan Kathleen untuk istirahat selama 2 hari, dan mulai kembali aktifitas di krippe di hari senin.

Hari ke 3, setelah liburan dari Vienna & setelah sembuh dari sakit 

Hari 3 giliran aku yang menemani Kathleen ke Krippe. Saat itu aku mulai mengantar Kathleen dari jam 1/2 8 pagi sudah sampai di KITA. Kami berkumpul di Spielzimmer bersama anak-anak lainnya sebelum mengikuti Morgenkreiss atau lingkaran Pagi.   Anak-anak kumpul bareng, kemudian  nyanyi dan menari bersama. 

Kalau ada yang ulang tahun sianak duduk ditengah dan tiup lilin dirayakan bersama anak-anak lainnya. Aku menemani Kathleen duduk dibelakangnya untuk menemani ikut kegiatan Morgenkreiss. Anakku terlihat menikmati kegiatan bersama bersama teman-teman barunya. 

Pukul 8, Kathleen makan pagi untuk pertama kalinya bersama teman-temannya. Inilah PRku, karena selama ini Kathleen sangat susah untuk duduk diam menghabiskan makanan selama makan. Untuk makan pagi di orangtua menyiapkan sendiri bekal untuk  sianak makan bersama di KITA. 

Aku hanya duduk dibelakang Kathleen, dan mengamati kathleen yang duduk sendiri sambil makan bersama teman-temannya. Anakku hanya menyantap yoghurt tanpa mau menyentuh roti dan buah yang aku bawa. Inilah susahnya Kathleen, anakku ini picky terhadap makanan, susah sekali membiasakan makan roti atau buah selain apel dan pir.

Setelah selesai makan, Kathleen mulai bermain bersama teman-teman barunya. Ketika Kathleen sibuk dengan mainannya, si pengasuh menginstruksikan aku untuk keluar ruangan, dan menunggu diluar. 15 menit aku menunggu di luar Erzieherin menginstruksikan aku untuk meninggalkan Kathleen dan nanti menjemput kathleen lagi pukul 1/2 12 siang.

Ketika menjemput Kathleen, anakku sudah selesai makan dan sudah selesai melakukan kegiatan di Toilet, baik cuci tangan, gosok gigi, dan Pee. Ketika melihat momynya datang dia agak sedikit cuek, karena mengikuti temannya yang bersiap tidur. Wuahhh pintar sekali anakku tidak menagis selama ditinggal momy, info dari pengasuhnya semua berlangsung aman tanpa ada drama tangisan.

Hari ke 4

Hari ini aku kembali menemani Kathleen, setelah mengganti sepatu dengan Hausschuhe atau sandal rumah, melepas jaket dan menaruh tas, kathleen langsung bergegas masuk ke spielzimmer untuk bergabung dengan teman-temannya melakukan Morgenkreiss. Seorang wanita paruh baya menyambut kami, dan menanyakan keaku apakah akan ikut masuk dan bergabung menemani Kathleen. 

Aku meninggalkan Kathleen diruangan bermain dan bertanya ke Erzieherinnya, hari ini ikut bergabung atau tidak. Karena dilihat Kathleen tidak ada masalah, si pengasuh menginstruksikan untuk meninggalkan Kathleen dan menjemputnya lagi saat jam pulang.

Aku memang agak terlambat menjemput Kathleen jam 12.30 aku baru sampai krippe. Aku sempat mendengar suara Kathleen menangis digendongan pengasuhnya, dan hanya ada kathleen dan pengasuhnya. Rupanya di krippe tempat Kathleen, jam makan siang dimulai jam 11-11.30. 

Paling lambat jam 12.00 semua anak sudah harus masuk kamar untuk tidur siang, sementara anakku hanya 6 jam di Krippe,  jam sampai 12.30. Oghhhh ternyata sementara anak-anak lain pergi tidur sipengasuh menemani Kathleen bermain sebelum dijemput sampai pukul 12.30.

Melihat momynya datang menjemput Kathleen menangis keras, seperti dia protes, momy kemana sih. Hari itu dari informasi pengasuh krippe, Kathleen menangis terus dan hanya sedikit  menghabiskan makan pagi dan makan siangnya. Menu makan siang hari ini Kartoffel und Quark, jenis makanan ini aneh untuk Kathleen, karena memang aku jarang memasaknya.

Anakku mulai beradaptasi dengan Virus

Kalau sebelumnya Kathleen menangis terus dan tidak mau makan ternyata karena sakit. Sore itu Kathleen panas tinggi sampai 40 derajat C.  Setelah sebelumnya sakit dan sekarang sakit lagi, padahal sebelumnya anakku tidak pernah sakit. Seperti kata mertuaku, kalau anak-anak mulai masuk krippe atau kindergarten, biasanya sering sakit. 

Aku memang tidak membawa Kathleen kedokter lagi karena demam, karena sebelumnya setelah liburan dari Vienna dan kathleen demam, kami sudah membawanya kedokter.  Aku coba memberi obat oral atau Zäpfchen untuk menurunkan demamnya. Kathleen susah sekali makan dia hanya mau minum saja, dan ternyata baru ketahuan ada sariawan besar dimulutnya.

Dihari senin Kathleen sudah tidak begitu panas lagi, tetapi dari telinganya keluar air (congek dlm bhs Indo). Kami memutuskan membawa Kathleen ke dokter, dan dokter memberitahu Kathleen kena bakteri dan harus minum antibiotik dan istirahat selama 1 minggu.

Hari 5

Setelah total 2 minggu tidak ke KITA, kami harus mengulang lagi semuanya. Kebetulan pengasuh Kathleen pergi liburan selama 2 minggu, sehingga diganti dengan pengasuh lainnya. Aku menemani kathleen saat beraktifitas Morgenkreiss di spielzimmer. Lalu aku lanjut menemani Kathleen makan pagi, dan aku duduk dibelakang nya.

Pagi itu Kathleen hanya makan yoghurt tanpa menyentuh roti yang aku bawa. Setelah selesai makan pagi aku masih menemani Kathleen bermain sebentar dan ketika Kathleen tidak melihat, aku diminta untuk meninggalkan ruangan, dan diminta untuk datang lagi saat menjemput Kathleen pulang.

Saat aku menjemput Kathleen, aku mendengar Kathleen menangis setelah makan siang. Aku bersembunyi sampai anakku selesai beraktifitas di Toilet untuk cuci tangan dan buang air kecil dan sikat gigi. Setelah selesai  aku masuk keruangan, ketika melihatku tangis Kathleen tambah keras, seolah-olah kesal karena mamanya meninggalkannya.

Hari ke 6 

Saat sampai ke KITA Kathleen mulai menangis, saat masuk keruangan Morgenkreiss pun, Kathleen tidak mau ditinggal momynya. Aktifitas setiap Morningkreiss anak-anak harus duduk dikursi bernyanyi dan melakukan gerak bersama.

Agak sulit memang buat anak kecil harus duduk 20 menit, saat kathleen tidak melihat aku segera keluar ruangan. Tetapi tidak sampai 5 menit keluar, anakku sadar momynya tidak ada, dan dia menangis keras didalam, sementara pengasuh yang bertugas dimorgenkreiss tidak bisa menenangkannya. 

Akupun masuk kembali dan duduk dibelakang Kathleen, dan Kathleen terus memegang tangan momynya, karena tidak mau momynya menghilang lagi. Setelah selesai anakku langsung ikut makan pagi, tetapi tidak mau duduk sendiri untuk sarapan.

Seperti yang aku bilang kalau pengasuh Kathleen yang berpengalaman sedang liburan, sementara pengasuh lainnya harus ke Karriere schule dan digantikan oleh Kepala sekolah. Kepala sekoah ini orangnya kurang ramah, dan sedikit kaku dalam menghadapi anak-anak. 

Entah hanya perasaanku sendiri, aku merasa dia tidak ramah terhadap yang bukan WN Jerman. Saat tiba disekolah aku mengajak Kathleen salaman dan mengucapkan morgen, tetapi tanggapannya tanpa senyuman sambil membalas salaman anakku tetapi diam saja tanpa bicara, menghadapi seperti ini aku berusaha tidak ambil pusing.

Saat makan pagi Kathleen mau duduk sendiri untuk makan, dan anakku makan sendiri kembang kol yang memang kesukaannya. Dan yang menyebalkan adalah si kepala sekolah duduk disamping anakku, tapi tak sedikitpun dia memandang Kathleen, malah membelakangi dan mengajak bicara anak  lain yang ada didekatnya.

Aku tidak mengharapkan dia banyak bicara ke anakku tapi paling tidak, bisa memuji anakku disaat anakku mau makan sendiri. Gut Kathleen selbst essen atau apalah, semetara guru pengganti yang lain ramah mau tersenyum dan menanyakan roti yang Kathleen makan dengan butter atau tidak,  atau sekedar mendengar keluhanku karena Kathleen termasuk anak yang susah makan. 

Sedih aku, tetapi aku juga berusaha tenang dan berfikiran positip, karena bisa saja hanya perasaanku saja atau memang seperti itulah karakternya, walaupun bekerja dilingkungan anak-anak tetapi tidak punya jiwa menyelami ke anak.

Saat waktu bermain, karena Kathleen sudah mulai bermain bersama teman-temannya, aku bilang ke si Kepala sekolah, lebih baik aku tunggu di luar, dan dia pun bilang ya tanpa memandang keaku. Hahaha sabar-sabar ya bu, menghadapi seperti ini tidak semua manusia itu menyenangkan.

Saat aku keluar, Kathleen sadar momynya tidak ada, dan dia segera berlari mencari momynya, dan sikepala sekolah bilang Neinnnnn bleiben here dengan suara yang cukup keras. Duhhh Gusti dan anakku pun menangis keras.

Sambil merasa sedih berusaha untuk tega juga, karena terus terang aku tidak punya pengalaman menghadapi anak yang beradaptasi masuk sekolah. Saat menunggu diluar guru pengganti yang lain menghampiriku, seorang yang cukup umur dan memberitahuku untuk meninggalkan Kathleen saat ini dan kembali menjemput lagi nanti.

Saat aku menjemput Kathleen anakku belum selesai makan, aku biarkan dulu sambil menunggu diluar. Aku mendengar siKepala sekolah mengajak Kathleen untuk melakukan aktifitas toilet. Anakku menangis saat diajak dan melakukan aktifitas ditoilet bersama pengasuh lain. 

Saat selesai dan bertemu momynya lagi-lagi Kathleen berhambur kearahku sambil menangis. Aku bertanya apakah Kathleen menangis lama?, karena saat aku pergi meninggalkannya anakku menangis cukup keras. kata sipengasuh menangis tapi sambil dipeluk untuk ditenangkan. Aku percaya kalau sipengasuh pengganti mau melakukan itu, karena memang kelihatannya orangnya baik.

Hari ke 7

Hari ini aku ikut Kathleen masuk menemaninya Morgenkreiss, karena kuatir momy akan melarikan diri dia memegang tanganku terus. Dan yang agak sebel walaupun momynya ada didalam anakku tetap saja menangis. 

Saat makan pagi kathleen bener-bener tidak mau duduk sendiri, dia hanya mau duduk dipangkuanku. Agak kerepotan aku menghadapi Kathleen karena dia malah menangis terus tanpa mau makan. Melihat aku kerepotan, Si kepala sekolah akhirnya buka suara dan mulai membantu menenangkan Kathleen.

Akhirnya aku bilang lebih baik aku pergi dan tidak bersama Kathleen. Kalau ada aku Kathleen jadi sangat manja, kalau momynya tidak ada, mau tidak mau tidak ada pilihan. Akhirnya si Kepala sekolah mengambil Kathleen dari pangkuanku dan mulai menenangkan Kathleen.

Hatiku hancur banget waktu denger Kathleen menangis keras, antara tega dan tidak tega, semuanya harus dimulai nak. Saat aku menjemput Kathleen pengasuhnya bilang Kathleen menangis dan sambil di peluk untuk mendiamkannya.


Hari ke 8

Pagi itu aku menghantar Kathleen dan setiap pagi Kathleen selalu menangis kalau mulai berangkat ke KITA. Anakku sepertinya tertekan dan stress, situasi ini membuatku marah pada diriku sendiri, merasa menjadi ibu yang kejam untuk anakku.

Aku merasa Kathleen tidak bahagia keKrippe, perasaan ini membuatku berjanji untuk mengakhiri semua ini. Aku akan bertanya kepada pengasuh Kathleen apakah aku sudah salah meninggalkan Kathleen seperti sebelum-sebelumnya.

Pagi itu aku mulai berkomunikasi dengan pengasuh Kathleen, serius bertanya tentang masalah anakku yang sepertinya stress dan merasa tertekan. Aku ceritakan semuanya, dan berharap untuk diberitahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya untuk membuat masa adaptasi ini berhasil, karena memang aku tidak punya pengalaman sama sekali. 

Hari ke 9

Hari itu aku dan papanya menghantar Kathleen ke Krippe. Aku sengaja mengajak papanya untuk melihat sendiri keadaan Kathleen di Krippe. Anakku tetap menangis dan tidak mau bergabung untuk mengikuti Morgenkreiss. 

Dia hanya mau dipangku sama Momynya. Kami menunggu sampai jam 8 waktu aktifitas Morgenkreis selesai dan lalu sarapan. Pengasuh Kathleen menghampiri kami dan mengajak Kathleen untuk bergabung makan. 

Anakku tidak mau berpindah gendongan dan menampik tangan pengasuhnya. Lalu anakku diambil dari gendonganku dan berpindah kepengasuhnya, sambil berpamitan anakku masih tetap menangis. Seperti janjiku bahwa aku akan mengikuti instruksi yang diberikan oleh pengasuh Kathleen, dan meninggalkannya untuk sarapan sampai datang menjemput Kathleen kembali. 

Hari ke 10-14

Selama 1 minggu ini Kathleen sarapan pagi dirumah bersamaku. Tidak mudah memang membiasakan anakku untuk sarapan menggunakan roti, kadang-kadang mau tetapi kadang-kadang tidak mau. selama 40 menit harus duduk bersamaku dimeja makan, makan atau tidak makan harus duduk dikursi.

Saat sampai Krippe sudah selesai waktu sarapan dan anakku tinggal bermain saja. Karena memang menurut pengasuhnya Kathleen selalu menangis saat waktu sarapan dan makan siang tetapi saat waktu bermain anakku merasa fun bermain baik diluar ataupun didalam ruangan. 

Dihari selasa pagi Kathleen panas lagi, ya ampun kenapa lagi dengan anakku ini. Aku sempat memberinya obat penurun panas dan rencananya tidak pergi ke Krippe. Tetapi setelah minum obat dan tidur beberapa jam panas anakku mulai turun. Jam 9 aku membawa anakku ke Krippe.

Aku hanya berdoa Kathleen tidak panas lagi. Memang saat ini setiap pagi aku memberikan Kathleen minum madu bersama lime untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Aku cuma memberi 1 sdt madu, 2 sdt lime dan sedikit air. Sudah pasti ditolaknya dan adegan pemaksaanpun terjadi, hahaha.

Selama 1 minggu ini saat menghantarkan Kathleen ke Krippe anakku masih tetap menangis. Dulu saat pengasuhnya mau mengambil alih dari tanganku, Kathleen sering berusaha menampik, atau bahkan tidak mau sama sekali. Sehingga harus terpaksa diambil alih.

Tetapi sekarang kalau pengasuhnya mau mengambil alih dari gendonganku, Kathleen sudah mau tanpa ditarik paksa, walaupun masih tetap menangis. Kali anakku berfikir gak mau juga tetap akan ditarik....(hahaha...maafkan kami ya sayang)

Saat aku atau papanya yang kebagian menjemput, saat melihat yang menjemput dia akan berlari sambil menangis dan lalu tertawa, wuahhh sudah ada kemajuan anakku sudah mulai terbiasa.

Hari ke 15

Ingat sekali waktu itu  hari Selasa, Pengasuh kathleen yang kemarin cuti hampir 2 minggu mulai masuk sekolah. Ines seorang wanita paruh baya yang sabar, dan anak-anak menyukai wanita ini. Saat Kathleen sampai ke krippe dan bertemu pertamakali dengan Ines, kami menyapanya dan anakku berlari ke arahnya dan memeluknya.

Padahal anakku baru bertemu Ines 3 kali, tetapi begitu bertemu lagi dia langsung memeluk Ines dengan senang. Aku juga sangat senang karena Ines sudah kembali lagi aktif di Krippe, pagi itu semua anak-anak gembira dan bermain bersama Ines.

Hari ke 16

Sepertinya anakku sudah mulai menikmati masa-masa indah di Krippe. saat pagi hari ke Krippe sudah tidak ada tangisan sejak berangkat dari rumah. Sampai di Krippepun Kathleen tidak menangis lagi saat harus berpisah dari momynya. Dan yang membuat aku bahagia anakku mau bergabung saat Morgeinkreis bermain dan bergabung dengan anak-anak lainnya.

Saat makan pagi pun sedikit-demi sedikit terbiasa dengan memakan roti, tidak semua bekal pagi dihabiskannya, tetapi anakku tetap mau makan. Begitupun dengan makan siang kalau ada nasi atau kentang dan nuddle pasti makannya banyak, walaupun untuk daging anakku agak susah makan.



Kamu sudah besar anakku

Hari-hari berikutnya Kathleen benar-benar merasa senang berada di Krippe. Pagi hari kalau momynya mengantar kekrippe, setelah berganti sepatu dan melepas jaket, maunya cepat-cepat masuk ke spielzimmer. 

Padahal momynya mau peluk-peluk sayang dulu diluar, tetapi anakku maunya langsung lari dan bergabung bersama teman-temannya. Menurut Erzieherinnya Kathleen aktif dan mau bergabung menari dan bernyanyi, ya anakku memang senang menari lompat-lompat dan bernyanyi, walaupun belum jelas liriknya tetapi kalau melodi sudah pas bisa mengikuti.


Selalu Berfikiran Positif 

Tentunya kunci kesuksesan agar anak bisa beradaptasi adalah kesabaran dan dukungan dari orang tua. Aku selalu berusaha untuk berfikir positif terutama untuk kasus kekesalanku dengan kepala sekolah Kathleen. 

Mungkin memang karena karakternya yang tegas dan memang tipikal dingin orang jerman jika belum kenal, membuat aku menganggap sikepala sekolah tidak ramah. Tetapi sekarang memang beda, entah karena memang sudah sering bertemu dan Kathleenpun tidak menangis lagi, Si kepala sekolah sering menyapa kalau bertemu dan normal seperti yang lain, walaupun memang jarang tersenyum (hahaha)


Kesayangan Momy n Papa

 
Menghadapi situasi yang seperti itu orang tua memang tidak boleh stress, karena kasihan juga sianak akan jadi double stress. Kuncinya adalah kesabaran, karena memang benar setiap anak memiliki keunikannya sendiri saat menjalani masa adaptasi disekolah.

Gimana dengan cerita kalian?, silahkan dishare di kolom komentar dibawah ini.

Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku.

Grüße