content='7496bf2686970bfa' name='yandex-verification'/>

Sunday, January 28, 2018

Peraturan tertib lalu lintas di negara eropa sangatlah tegas, begitu juga dinegara tempat aku tinggal yaitu Jerman. Tidak ada kompromi antara aparat maupun pengendara kendaraan baik mobil ataupun motor, mereka yang melakukan pelanggaran akan ditindak secara tegas. Kali ini aku akan share pengalamanku dan suamiku menerima sangsi tegas karena pelanggaran berlalu lintas. 

Sebenernya pengalaman yang aku share ini adalah pengalaman suamiku, of course karena aku tidak punya SIM otomatis tidak bisa melakukan aktifitas berkendara selama di Jerman, alias duduk manis disamping pak supir. Menggunakan mobil, bus, ataupun motor di Jerman sangatlah nyaman dan aman, hampir bebas macet kecuali ada kecelakaan atau perbaikan. Setiap kota dihubungkan dengan jalan tol yang memiliki sistem free toll (tidak perlu bayar) atau disini disebut Autobahn. Autobahn ini merupakan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah Jerman bagi setiap warganya. masyarakat jerman memang sangat jujur dan taat membayar pajak, sehingga dari pajak ini digunakan untuk membangun fasilitas publik yang membawa kemakmuran bersama, salah satunya dengan penyediaan jalan toll gratis. 

Semua jalan  dan jalan tol yang ada di Jerman  mulus karena selalu diperbaiki, jalannya lebar, sering tanpa hambatan kecuali jika ada kecelakaan dan Baustelle / perbaikan jalan. Di jalan tol tidak ada loket yang menyebapkan antrian panjang dan memerlukan tambahan tenaga kerja dan biaya operasional yang tinggi. Pemeritah Jerman menetapkan sangsi yang sangat tegas bagi pelanggar lalu lintas. Pengendara tidak bisa bertindak semena-mena saat berkendara, apabila tidak tertib saat kalian berkendara di jalan raya sudah pasti sangsi tegas akan diterima berupa denda yang jumlahnya tidak sedikit. 

Berikut ini jenis-jenis pelanggaran saat berkendara di jalan raya: 
  • Pelanggaran kecepatan maximum, batas kecepatan berkendaraan di Jerman tergantung lokasi. Di dalam kota batas kecepatannya biasa 50 km/jam, di beberapa daerah dalam kota, seperti perumahan atau dekat sekolah bisa jadi batas kecepataannya 30 km/jam. Di Landstrasse, jalan yang menghubungkan kota dengan kota, batas kecepatan maksimal 70 – 100 km/jam. Apabila melebihi batas max yang diijinkan, akan dikenakan denda setiap kelebihan km/jam nya. 
  • Saat belok atau pindah jalur tetapi tidak menyalakan lampu sen. 
  • Menerobos pintu lintasan kereta api.  
  • Parkir sembarangan, ada aturan jam-jam tertentu kapan boleh parkir, dan jam-jam kapan harus bayar parkir dan kapan gratis. Setiap lokasi memiliki aturan masing-masing, tergantung apakah lokasinya berada di pusat kota, di perumahan, di kawasan wisata, dan lain sebagainya.
  • Pengemudi dan penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman. Setiap pengemudi dan penumpang wajib menggunakan sabuk pengaman. Begitu juga bagi penumpang lain termasuk bayi dan anak-anak, diwajibkan menggunakan sabuk pengaman. Bagi baby biasanya mereka harus duduk sendiri di baby schale, begitu juga anak dibawah 7 tahun harus duduk di car seat lengkap dengan sabuk pengaman. Orang tua tidak boleh memangku baby atau pun anak-anak, mereka harus duduk sendiri dengan pengaman yang memadai saat dijalan raya. 
  • Berkendara dalam pengaruh alkohol. 
  • Pelanggaran berkendara di Autobahn ( Jalan Tol), di jalan tol batas kecepatannya dari 100 km/jam sampai tidak terhingga. Jadi kalo tidak ada tanda apa-apa di jalan tol, artinya bisa berkendaraan secepat mungkin, tetapi tentunya harus memperhatikan kendaraan-kendaraan lain
  • Penggunaan telepon saat berkendara Pelanggaran lampu lalu lintas .
Untuk lebih lengkapnya berapa denda yang harus dibayar, yang diliris per 1 april 2013, kalian bisa cek disini www.howtogermany.com/pages/traffic-violations.html 

Blitzer
Di Jerman Polisi  lalu lintas hampir tidak pernah nampak, tidak seperti di Indonesia yang sering ada di setiap perempatan jalan. Disini biasanya polisi berseragam hijau dan biru yang kadang melakukan patroli di jalan raya. Kesalahan berlalu lintas tidak dipantau oleh polisi melainkan dipantau oleh kamera-kamera yang dipasang di sepanjang jalan terutama di perempatan. Pelanggaran lampu merah, begitu juga dengan pelanggaran batas kecepatan, bisa langsung terdeteksi oleh sensor di kamera, klik dan pelaku langsung terpotret dan tercatat melakukan pelanggaran. 

Di sepanjang jalan di tempat-tempat tersembunyi terdapat kamera, yang seketika dapat mengeluarkan kilatan cahaya (blitz) untuk memotret pengendara yang ngebut. Sensor kamera pelanggaran di Jerman canggih, dan memiliki ketajaman untuk menjepret wajah dibalik kemudi dalam mobil sekalipun dalam keadaan gelap dimalam hari. Pelaku yang melakukan pelanggaran wajahnya akan terpotret dengan jelas berikut dengan nomer plat mobilnya. 

Blitzer (kamera  yang memantau pelanggaran)
Selanjutnya datang surat tagihan tilang dari Flensburg (kota tempat pusat administrasi penagihan denda tilang nasional), lengkap dengan gambar (kecil, agak gelap tapi masih bisa dikenali) dari pengendara yang telah melakukan pelanggaran lalu lintas tersebut. Setiap kesalahan berlalu lintas di jalan raya akan tercatat di sistem informasi komputer mereka, dan denda langsung dikirimkan ke alamat pelanggar lalu lintas, berikut dengan keterangan pelanggaran, tagihan pembayaran tilang yang harus dibayarkan berikut no rek bank yang dituju melalui transfer. 

Dengan sistem ini Polisi tidak harus stand by di jalan raya. Mereka lebih bisa konsentrasi untuk mengungkap perkara kriminal dan pelaku kejahatan lainnya. Kamera dan sistem yang ada juga tidak bisa diajak kompromi, denda ditempat tanpa surat, uang rakyat secara aman tersetor ke negara. 

Contoh wajah yang terekam blitzer
Selama hampir 2 tahun di Jerman, sudah 5 kali suamiku kena denda karena pelanggaran lalu lintas. Satu kali tahun 2016 dan yang paling parah di tahun 2017, empat kali silvio harus membayar denda karena pelanggaran lalu lintas. Yang keseringan denda menyetir dengan kecepatan yang melewati batas yang ditentukan, jangan salah walaupun hanya kelebihan 10 km/jam tetap dikenakan denda juga. 

Blitzer di Autobahn

Berikut ini contoh beberapa pelanggaran yang kami lakukan:
  • Jadi waktu itu tahun 2016, kami mau menuju ke Landratsamt untuk mengurus kedatanganku di Jerman. Lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami, ceritanya karena mengejar jam buka landratsamt, suamiku agak ngebut di jalan. Dan rupanya ternyata tumben-tumben ada mobil polisi yang sedang parkir dengan posisi yang tidak terlihat (agak ngumpet). Dan ya suamiku tertangkap kamera pelanggaran lalu lintas, kecepatan mobilnya kelebihan 15 km/jam dari batas maximum yang diijinkan untuk melintas didaerah tersebut. Pak polisi melakukan pengecekan sim dan kelengkapan surat lainnya, dan kami harus membayar denda sebesar 15 euro atau sebesar Rp. 225,000.
  • Juli 2017, yang ini dendanya nyesek sekali, banyak sodara-sodara. Ceritanya suamiku harus mengunjungi kota di Jerman barat dikota Ulm yang jaraknya dari rumah kami sekitar 5 jam dengan perjalanan mobil. Karena tidak tahu jalan menuju kesana kami menggunakan panduan Google map, untuk menuju lokasi yang kami tuju. Dan selama dalam perjalanan kami melewati Autobahn atau jalan tol Jerman, memang semua kendaraan diperbolehkan untuk melaju kencang selama berada di Autobahn, tetapi entah karena signal internet yang koneksinya tidak bagus, google map menginformasikan untuk exit secara mendadak. Karena suamiku mengambil bahu kanan secara mendadak (tidak dari jarak jauh sebelumnya) dan kami melakukan pelanggaran dan otomatis tertangkap kamera di jalan tol. Dan denda di Autobahn ini enggak kira-kira mahal sekali, kami harus membayar denda sebesar 122 euro atau sekitar Rp. 1,830,000. Itulah kenapa aku bilang nyesek, oalahhhhh kalau ini nyeselnya banget-banget. Suamiku sadar dari awal kalau dia melakukan pelanggaran, tapi waktu itu kami hanya berfikir paling denda 15 euro, tapi ternyata.......eng..ing....engggg. Suamiku memang baru pertama kali melakukan pelanggaran di Autobahn dan enggak lagi-lagi dech, kapok bayar tagihannya. Memang kalau melakukan pelanggaran di Autobahn ternyata dendanya memang mahal sekali, so harus konsentrasi penuh saat melintas di jalan ini. 
  • Sept 2017, saat kami mau ke gereja, kebetulan gereja kami dulunya adalah sebuah kastil yang saat ini menjadi semacam cagar budaya. Biasanya kami memarkirkan mobil tidak begitu jauh dari lokasi kompleks gereja, tetapi hari itu ada larangan tidak boleh parkir ditempat biasa kami parkir. Otomatis suamiku parkir di sekitar pintu gerbang. Pulang dari gereja dikaca depan mobil kami mendapat surat cinta, denda alias tilang karena kami parkir di kawasan yang termasuk masih Zona kawasan konservasi. Tidak hanya mobil kami, kebetulan banyak mobil lain yang kena tilang juga. Karena memang disekitar gerbang tidak ada larangan tidak boleh parkir, ya mana kami tahu kalau disekitar gerbang masih masuk kawasan zona konservasi, sehingga tidak boleh parkir disana. Dan 2 minggu kemudian datang surat tilang dengan denda yang harus dibayarkan sebesar 15 euro. 
  • Dec 2017, hemmm lagi-lagi ini di kota kami di Oschatz, padahal sudah biasa lewat dan hafal kalau kecepatan yang biasa diperbolehkan adalah 50 km/jam, tapi suamiku melintas dengan kecepatan 61 km/jam. Suamiku lupa kalau ada kamera dan tidak membaca plang, karena keasyikan ngobrol denganku. Karena kelebihan berkendara 11km/jam kami harus membayar denda 15 euro. 
  • Dec 2017, kejadiannya selang seminggu. Ceritanya kami waktu itu kami habis mengunjungi pasar malam natal atau Weihnachtsmarkt di Dresden. Kondisinya waktu itu gelap karena memang sudah malam, dan lampu penerangan jalanpun minim. kami melintas di jalan yang tanpa kami sadari ada plang kecepatan max 50 km/jam. Silvio mengendarai mobil dengan kecepatan 57 km/jam, tiba-tiba lampu blitz menyala ditengah kegelapan malam. Oww owww denda lagi dech, walaupun cuma kelebihan berkendara 7 km/jam kami tetap dikenakan sangsi dan harus membayar 10 euro. 
Berikut ini contoh jenis pelanggaran berikut denda yang harus kamu bayarkan: 

Speeding
ViolationFine (€)PointsLicense Suspension
Exceeding Speed LimitWithin/outside city limitsWithin/outside city limitsWithin/outside city limits
Up to 10 km/h15/10

11-15 km/h25/20

16-20 km/h35/30

21-25 km/h80/701
26-30 km/h100/801
31-40 km/h160/12011 month (within city limits)
41-50 km/h200/16021 month
51-60 km/h280/24022 months/1 month
61-70 km/h480/44023 months/2 months
over 70 km/h680/60023 months

Kalau ditotal sudah banyak sekali kan denda yang harus kami bayarkan. Cukup tobat dan jangan terulang lagi. Biasanya pelanggaran yang sering terjadi adalah pelanggaran yang berhubungan dengan kecepatan. Terkadang karena jalan yang sepi dan mulus kita tidak sadar kalau berkendara melebihi kecapatan yang diijinkan. Kecepatan max ini memang berlaku di daerah pemukiman penduduk, tetapi kalau kita jarang atau tidak pernah lewat daerah itu, sehingga jadi tidak sadar ada kamera dan plang kec max. Tau-tau ada blitz yang menyala, yeay you got caught jangan lupa senyum ya. 

Autobahn and Highways
ViolationFine (€)PointsLicense Suspension
Turning around/reversing on exit/on ramp751
Turning around/reversing on shoulder1301
Turning/reversing/driving in wrong direction20021 month
Parking on autobahn or highways702

Hati-hati juga buat kalian yang sering kena tilang atau denda, karena setiap kesalahan yang dibuat akan diberikan point, (Punkte Flensburg) dan poin itu akan diperhitungkan. Contoh perhitungan point: Silvio sudah melakukan beberapa kali pelanggaran yang berhubungan dengan kecepatan, tetapi kelebihan kecepatan yang ia langgar masih dianggap wajar (lihat di tabel bag point) dan tidak dihitung point. Tetapi kalau kalian berkendara bak mosnter kecepatan melaju kelebihan 20 km/jam keatas tentu mendapat point dan ini diperhitungkan. 

Jangan karena jalan di Jerman itu sepi dan mulus lalu menjadi seolah-olah sedang berkendara di race area, dont to be *monster kecepatan*, karena kalau ini terjadi bersiaplah untuk beberapa masalah. Semakin besar bahaya akibat pelanggaran yang terjadi, semakin banyak poin yang akan dicatat di Flensburger Konto. Jika pelaku lalu lintas mengumpulkan 8 poin dalam periode satu tahun dan 18 dalam periode dua tahun. Setelah 8 poin, lisensi kamu otomatis ditangguhkan selama 6 bulan, kamu harus menyerahkan SIM secara permanen. 

Repot pastinya kalau harus membuat Sim lagi, selain menyita waktu, biaya pembuatan sim di Jerman sangat mahal 2.000 Euro atau sekitar 30 juta rupiah. Hemm buat pelajaran juga bagi suami dan aku karena walaupun pelanggaran yang Silvio lakukan hanya dihitung 1 point ( pelanggaran di Autobahn, yang mengambil bahu kanan cesara tiba-tiba), dan akan hangus jika dalam setahun itu tidak terjadi pelanggaran lagi, tetapi tetap harus hati-hati dan berkonsentrasi saat berkendara.  

Jadi kalau sedang melenggang santai di jalan ataupun di Autobahn, dan tiba-tiba ada blitz menyala jangan menduga paparazi ya,  bisa jadi kamera pengintai sedang memotret kendaraan kalian jika melakukan pelanggaran. Memang kamera itu hanya berfungsi sebagai pengingat untuk melihat kecepatan kita, tetapi yang terpenting adalah keselamatan si pengendara dan semua orang yang ada disekitarnya. 

Demikian shareku kali ini, semoga bisa menjadikan pengalaman dan menambah wawasan  buat kalian. Selalu konsentrasi saat berkendara, karena keselamatan sangat berharga sekali. Apa kalian punya pengalaman yang sama seperti kami, silahkan dishare di kolom komentar. 

Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku.

Reaksi:
Posted in

2 comments:

  1. Selama aku di Jerman, baru sekali suami kena tilang. Itu karena plang batas kecepatannya berada setelah kamera tilang :D . Kena denda 15 atau 20 euro gitu deh. Eh iya kadang klo ada mobil inspeksi ada aja pengendara yg kasih tanda dg kedipan lampu sen, spy kita waspada ;) .

    ReplyDelete
    Replies
    1. kapok kak nel....yang paling nyasek dendanya di Autobahn. Terkadang kalau perjalanan malem hari ato berada di daerah yang belum pernah dilewati suka ga ngeh ada plang peringatan.

      Delete