content='7496bf2686970bfa' name='yandex-verification'/>

Wednesday, September 19, 2018

Ditengah kelelahan yang sangat karena mengurus buah hatiku yang lagi aktif-aktifnya, susah sekali untuk mengumpulkan tenaga sekedar untuk menulis di malam hari mengenai kehidupan di Jerman. Karena terus terang energiku bener-bener sudah terkuras dari siang hari untuk Kathleen.

Beruntung akhir-akhir ini Kathleen bobonya cepat, jadi momynya masih punya tenaga untuk menulis beberapa artikel untuk sahabat blogger. Kali ini aku mau share ke temen-temen blogger mgengenai salah satu kebiasaan masyarakat jerman saat melakukan transaksi pembayaran saat berbelanja.  

Masyarakat di setiap negara memang memiliki cirinya masing-masing, terutama dalam melakukan transaksi pembayaran dari pembelian suatu barang atau jasa. Ketika banyak negara mulai menerapkan sistem pembayaran dengan metode online, salah satu negara maju di Eropa yaitu Jerman, masih tetap setia melakukan pembayaran dengan sistem tunai. 

Selama aku tinggal di Jerman aku jadi sangat paham kebiasaan masyarakat Jerman dalam melakukan pembayaran. Budaya masyarakat Jerman dalam melakukan pembelian memang berbeda, kalau masyarakat Amerika, terbiasa membayar dengan menggunakan kartu kredit, baik menggunakan AmEx, MasterCard, atau Visa, tetapi tidak demikian dengan masyarakat Jerman.  

Kebanyakan orang Jerman lebih memilih buat bayar tunai ketimbang kredit. Mereka tidak menyukai menggunakn kartu kredit atau bahkan menggunakan pembayaran dengan cek. The Bundesbank, bank Central Jerman, baru-baru ini memperkirakan bahwa 79 % dari transaksi keuangan di Jerman adalah menggunakan pembayaran tunai bahkan untuk transaksi dalam skala besar, sementara di Inggris dan Amerika Serikat angka itu di bawah 50 %. Cara orang Jerman menangani uang memang sangat berbeda dari cara orang Amerika  dalam menggunakan uang. 
 
Sistem perbankan Jerman menawarkan sistem suberb untuk mentransfer uang, melalui Geldüberweisung dari satu akun ke akun lainnya. Pilihan pembayaran lain yang populer adalah kartu debit, yang sering digunakan untuk membeli sesuatu di toko atau bisnis. Kartu EC (Electronic Cash), juga disebut GeldKarte, atau dikenal sebagai kartu Maestro.

Seperti kartu debit pada umumnya, uang ditransfer langsung dari akun pemegang kartu EC ke akun penjual. Tidak seperti kartu debit yang biasa digunakan di negara AS, kartu EC ini tidak berfungsi ganda sebagai kartu kredit. Kalian harus memiliki akun bank Jerman atau Eropa untuk mendapatkan dan menggunakan kartu EC, dan kalian tidak bisa mendapatkan rekening bank kecuali kalian adalah penduduk terdaftar. 

Membeli sesuatu secara tunai untuk sebagian besar transaksi tampaknya sangat tertanam dalam jiwa masyarakat Jerman. Sejak kecil anak-anak dibiasakan tumbuh dalam budaya melakukan pembayaran secara tunai. Orang Jerman memiliki anggapan bahwa dengan menggunakan uang tunai, mereka bisa mengontrol dan mudah melacak uang dan pengeluaran mereka dan menghindari risiko utang.  

Memang ada benarnya juga, saat kamu membayar cash, kamu pasti langsung lihat berapa pengeluaran kamu. Sementara dengan kartu kredit, kamu merasa masih punya banyak uang padahal utang kita  bertambah. Tabungan kita memang tidak berkurang, tetapi di akhir bulan kita menerima tagihan yang mengejutkan.

Tingkat utang konsumen di Jerman memang rendah. Keengganan masyarakat Jerman terhadap utang hipotek merupakan bagian dari alasan mengapa negara ini memiliki beberapa tingkat kepemilikan rumah terendah di negara maju, selain memang karena harga rumah di Jerman juga sangat mahal.

Kebanyakan orang Jerman juga dikenal suka menabung, mereka memang terbiasa untuk hidup hemat. Meskipun suku bunga di negara Jerman cukup rendah, kebanyakan orang Jerman lebih milih buat nabung dibandingkan ngutang. Sudah sejak lama, masyarakat Jerman ‘didoktrin’ soal betapa pentingnya menabung. 

Salah satu pendorongnya adalah sejarah masa lalu, di mana masyarakat Jerman berada di masa-masa sulit, terutama di saat Perang Dunia ke-2. Selain untuk mempersiapkan masa depan, menabung dinilai penting sebagai kontribusi buat negara yang butuh biaya perang. Apapun tujuannya, sejarah Jerman tersebut membentuk kebiasaan turun-temurun orang Jerman buat rajin menabung dalam keadaan apapun.

Hal ini juga berlaku untukku dan suami, suamiku sendiri memang terbiasa untuk membeli segala keperluan kami secara cash atau tunai. Entah itu peralatan elektronik, membeli peralatan rumah tangga, mebel, atau mobil sekalipun harus bisa dibeli secara tunai. Ya kalau tidak punya uang ditahan dulu keinginannya, harus menabung supaya tidak terlalu banyak memikirkan utang yang harus dibayarkan. 

Begitulah prinsip kami berdua, kecuali untuk membeli rumah entah kapan dan bagaimana impian kami ini akan terwujud, mengingat harga rumah yang sangat mahal di Jerman. Kalaupun meminjam ke bank, pemasukan hanya dari  suami itu juga yang menjadi kendala pihak bank dalam memberikan pinjaman.

Ya sudah semoga harapan ini suatu saat bisa terwujud melalui kerja keras dan usaha berdua. Nah sekarang yang terpenting hidup berhemat, membeli segala sesuatu yang betul-betul dibutuhkan, dan yang terpenting jangan memaksakan diri, harus seusai kemampuan dan usahakan untuk tidak berhutang kalau hanya untuk memenuhi hasrat konsumtif .


Bagaimana dengan kalian, kalian lebih banyak berbelanja secara cash atau kredit?

Demikian shareku kali ini mengenai kebiasaan masyarakat Jerman dalam mnggunakan uangnya untuk berbelanja.

Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku.

Grüße 
 



Reaksi:
Posted in

2 comments:

  1. Suamiku juga maunya cash aja klo beli2. Klo aku bilang sih kredit aja, supaya ringan dicicil, ntar tiap bulan bisa dipotong dari tabungan. Dia ogah, katanya klo begitu ntar nama kita bisa masuk dalam data perbankan dan tersimpan datanya selama 5 thn. Btw Yosefin ganti dong font tulisannya, klo model begini sakit mata dan susah bacanya hehe .. jangan marahh yaaa :) .

    ReplyDelete
    Replies
    1. hallo kakakku....enggak lah kak masak marah. Justru aku seneng kaka mo kasih input, udah 2 orang kak yg bilang tulisanku fontnya miring-miring susah baca, cuma karena pengen beda fontnya pake yg alay, hahaha. Nanti tak baca dlu cara ngerubah font kak maklum gaptek.. Aku baru tau kak kalo kredit gitu datanya tersimpan selama 5 taun, mungkin kalo keseringan kredit ya kak...kalo bank di Indo malah kalo bisa kredit aja atuh apa2 keuntungan bank diambil dari bunga kredit.

      Delete