content='7496bf2686970bfa' name='yandex-verification'/>

Tuesday, April 10, 2018

CINCIN pernikahan merupakan suatu simbol cinta yang melambangkan bentuk dari rasa cinta yang mendalam antara pasangan yang telah melakukan pernikahan. Begitu juga bagi kami berdua, kami sangat paham arti penting cincin kawin yang menjadi simbol terikatnya komitmen cinta kami dalam sebuah pernikahan. 

Sedihnya kehilangan cincin kawin 

Hari ini aku mau share ke blogger saat kami merasa sedih sekali waktu kehilangan cincin pernikahan kami. Masih inget banget waktu itu kejadiannya beberapa hari sebelum hari Natal, tepatnya 22 Desember 2017. Jadi cerita bermula waktu suamiku mau mengadakan acara reunian bersama temen-temen masa kecilnya yang biasa dilakukan setahun sekali menjelang Natal. Suamiku minta ijin untuk dateng, dan rencananya akan menginap dirumah mertuaku. Aku dan Kathleen memang tidak ikut papanya, karena tanggal 24 Dec kami rencananya mau menghabiskan liburan Natal dirumah mertuaku. 

Jadilah papanya kathleen menginap sendiri tanpa kami berdua. Biasanya kalau acara reunian seperti ini, pasti ngobrol ngalur ngidul sampai tengah malam, dan tidak mungkin bagi suamiku kembali ke Oschatz yang jaraknya 1 jam dari kota kelahirannya dalam keadaan menyetir dalam pengaruh alkohol. Tau sendirikan orang Jerman itu senang minum bir ataupun wine terutama saat acara kumpul-kumpul seperti ini. 

Winter 2017 ini jarang turun salju. Salju hanya turun 1 minggu diawal bulan desember, dan diakhir maret. Suamiku berencana kerumah temannya menggunakan sepeda dan meninggalkan mobilnya di Wohnung mamanya. Begitu tiba dan memarkir mobil diparkiran, Silvio langsung menuju kebelakang Wohnung untuk mengambil sepeda dan langsung menuju rumah temannya. Dia belum menyadari kehilangan cincin kawin kami, baru setelah hampir sampai dirumah temannya, sadar cincinnya sudah hilang. 

Waktu sadar kehilangan cincin kawin, dia kembali lagi menyusuri perjalanan ke apartemen mamanya, tapi tetep tidak ketemu. Beruntung salju tidak turun, masih cukup mudah untuk melihat ketanah, tapi setelah ditelusuri tetep juga tidak ketemu. Tidak mudah memang untuk mencarinya, karena malam, gelap, dan jalan sepeda di kota suamiku kanan kirinya rumput yang cukup tinggi. 

Pagi harinya bersama mertuaku Silvio kembali ke lokasi dekat Gästhaus tempat ia sadar kehilangan cincin kawin. Dari situ dia berjalan sendiri menyusuri jalan mencari cincin kawin kami yang jatuh, tapi tetep juga tidak ketemu. Sore hari suamiku sampai dirumah ngomong kalau dia kehilangan cincin kawin. Kaget campur sebel banget, dapet kabar seperti ini. Kami baru menikah 1,5 tahun dan kehilangan cincin kawin. 

Mitos yang beredar dimasyarakat, jika kehilangan cincin kawin 

Mulailah drama korea tayang, (hahaha) sambil ngomel dan adegan nangis bombay. Pastinya kecewa banget donkkk, plus juga adegan ngambek sama suamiku. Yang bikin sebel suamiku keliatan santai aja, hahaha maunya gimana donk?. Mauku dia ikutan setres seperti aku yang semaleman itu nangis sambil ngedumel, bercampur dengan segala pikiran yang tidak-tidak. 

Ya terus terang aku mulai berfikiran negatif, kepikiran mitos-mitos yang beredar di masyarakat kita, kalau kehilangan cincin nikah atau cincin kawin itu pertanda awal dari keretakan keluarga, hadehhhh jadi horor kan. Suamiku berusaha menenangkan aku yang malam itu terus menangis, dan dia berusaha meyakinkan aku untuk mencarinya bersama-sama, saat kami menginap dirumah mutter. 

Aku berusaha untuk mengendalikan emosiku, dan berusaha untuk tidak khawatir dengan semua itu, membuang jauh-jauh pikiran bahwa keluarga yang retak bukan hanya gara-gara cincin kawin yang hilang. Dalam keadaan masih jengkel maksimal dan gelisah, aku berusaha menenangkan diri dengan berdoa. Pertama yang aku mohon semoga Tuhan menjaga rumah tangga kami, dan semoga semua yang aku takutkan dalam nama Tuhan Yesus tetap baik adanya. 

Kedua minta diberi keiklasan, kalau memang cincin itu masih rejeki kami pasti akan kembali kalau bukan rejeki kami, diberi perasaan ikhlas. Pagi harinya aku menelfon ibu dan adikku. Kaget juga mereka mendengar kabar ini, ibuku berusaha menghibur untuk tidak berfikir hal yang aneh-aneh. Dan ibuku juga cerita dulu bapakku juga kehilangan cincin kawin mereka, dan sampai sekarangpun Puji Tuhan mereka baik-baik saja. 

Adikku pun berusaha menghibur bahwa cincin hanya berupa simbol tali pengikat cinta dalam pernikahan, dan pengikat yang lebih berharga adalah kehadiran anak yang sehat dalam rumah tangga kami, so plisss jadi harus buang jauh-jauh pikiran yang aneh-aneh itu. 

Persiapan Natal 2017 

Aku berusaha Ikhlas menerima kenyataan, dan berusaha happy untuk menyambut natal yang tinggal kurang 2 hari lagi. Tanggal 24 Dec 2017, aku menginap dirumah mertuaku. Malam harinya kami berencana akan misa di kota tempat tinggal mertuaku. Siang harinya aku dan Silvio menyusuri kembali jalan yang dilalui Silvio, dalam keadaan udara dingin saat winter kami berdua berjalan sambil menunduk ketanah dan mencari di aspal dan rerumputan. 

Cukup jauh kami berjalan dari rumah mertua sampai ke Gästhaus tempat Silvio sadar kehilangan cincin. Hemm walaupun sudah bolak balik kami tetap tidak menemukan cincin itu. Ya sudah aku sudah ikhlas, aku berusaha mendengar nasehat keluargaku, karena yang terpenting saat ini kami semua sehat. Aku sudah membuang kesedihanku untuk menyambut sukacita Natal 2017 bersama keluarga kecilku. 

Saat kehilangan cincin, mertuaku memang menghubungi Gästhaus lokasi tempat suamiku sadar kehilangan cincin kawin. Beliau menginformasikan jika anaknya kehilangan cincin kawin, jika ada warga atau tamu disekitar Gästhaus ada yang menemukan, mohon untuk dikonfirmasi ke beliau sambil meninggalkan nomor telefon yang bisa dihubungi. kami memang tidak lapor kepolisi karena di kota suamiku tidak ada kantor polisi. Mertuaku juga memberitahu beberapa tetangga disekitar Wohnung, jika ada yang menemukan cincin mohon dikonfirmasi ke beliau. 

Kalau rejeki tidak akan kemana, pasti akan kembali 

Waktu sudah berlalu lebih dari 3 bulan, sudah ikhlas dengan kehilangan cincin kawin kami, walaupun dalam doa masih berharap jika masih rejeki, kami bisa menemukan cincin kawin kami lagi. Akhir maret mertuaku telfon, mengabari bahwa tetangga di Wohnung tempat tinggal mertua kami, ada yang menemukan cincin. Lalu mertuaku menanyakan ciri-ciri cincin kawin kami. 

Silvio bilang bahwa dicincin itu, ada namaku bukan Yosefin tapi hanya efin. Lalu beliau menelfon ketetangganya tentang ciri-ciri cincin kami yang hilang, dan memang betul itu adalah cincin kawin kami yang hilang, ciri-cirinya persis seperti yang kami sebutkan, dan ada nama efin di cincin itu. Wahh hepi dan ga nyangka banget kalau kami bisa menemukan cincin itu lagi. 

Cincin itu hilang menjelang Natal dan ditemukan lagi sebelum Paskah. Kami merayakan Paskah dirumah mertuaku, saat itu tidak lupa kami juga membeli Geschenk atau gift sebagai ucapan terimakasih bagi yang sudah menemukan cincin kami. Siang hari kami meluncur ketetangga Wohnung mertuaku, sambil membawa sekrak bir untuk hadiah. 

Ternyata yang menemukan adalah seorang pria sebaya suamiku, dia bercerita sambil agak mengingat kejadiannya lagi karena lupa. Waktu itu menjelang Natal, setelah memarkir mobil didepan Wohnung diparkiran si mas bule menemukan cincin, lalu dibawanya cincin itu dan diinformasikan ke seine Frao kalau dia menemukan cincin. Tetapi karena tidak tahu itu cincin siapa hanya diletakkan begitu saja dimeja, dan kemudian terlupakan tidak dibahas lagi. 

Selang beberapa bulan si mas bule lalu teringat dengan cincin ini, singkatnya ia cerita ke tetangga Wohnung kalau menemukan cincin. Dan dari tetangga itu ada yang tau bahwa Frao hübner's Sohn hatte seinen Ehering verloren (kehilangan cincin kawin). Dan akhirnya tetangga mertuaku langsung menginformasikan ke mertuaku, dan akhirnya kami bisa menemukan kembali cincin kami yang hilang. 

Wahhh amaze banget dengan semuanya ini, cincin kami bener-bener bisa kembali kekami lagi. Ternyata awalnya kami mengira cincin itu jatuh di dekat lokasi Gästhaus ternyata jatuh di tempat parkir di Wohnung mertuaku. So bukan seperti perkiraan suamiku jatuh saat suamiku mengerem saat berkendara sepeda. Tetapi mungkin jatuhnya karena memang cincin itu longgar dijari manis suamiku, saat itu memang hectic, suamiku buru-buru, menyambar tas dan bawaan lainnya, dan karena longgar akhirnya jatuh. 

Belajar kejujuran dari orang barat 

Buat aku memang ajaib, aku terbayang kalau cincin ini hilang di Indonesia kemungkinan besar tidak akan kembali. Apalagi jika ditemukan sesorang, pasti hanya sebagian kecil, yang mempunyai niat untuk mengembalikan cincin ini. Biasanya pasti akan jadi milik entah dipakai sendiri atau malah dijual ketoko emas dengan harga murah. Aku memang belajar, meniru segala hal yang baik dari perilaku masyarakat barat, jika mereka menemukan sesuatu pasti akan dikembalikan, atau diberikan kepetugas security. 

Sangat jarang bagi mereka jika menemukan sesuatu malah jadi milik. Moral seperti ini memang sudah dididik dan ditanamkan sejak dini kepada setiap anak, sehingga tidak heran setelah dewasa mereka sudah sangat paham tentang hal ini.

Cincin kawin menandakan status seseorang

Memang terus terang, aku bangga jika kami bisa memakai cincin kawin kami. Selain cincin kawin memiliki makna bukti cinta tanpa akhir dan komitmen pada pasangan, dengan mengenakan cincin pernikahan menunjukkan status atau bukti bahwa mereka telah menikah. 

Di jerman tidak banyak pasangan yang menikah, hanya tinggal bersama tanpa pernikahan. Disaat suamiku juga memakai cincin kawin, sudah pasti bangga karena pria yang disampingku ini adalah suami sah yang terikat dalam komitmen pernikahan bersamaku. 

Positif, positif dan positif 

Kalau kalian mengalami kejadian yang sama dengan ceritaku, saranku gak perlu gelisah dengan pikiran yang aneh-aneh seperti pikiranku, karena mitos seperti itu tidak benar adanya. Ambil hikmahnya saja saat kehilangan cincin, untuk berfikir dengan rasional, atau berfikir jernih, agar kita menjadi orang yang matang dalam berkeluarga, serta dapat memahami alasan pasangan kita, dan tak perlu marah-marah karena kelalaian pasangan kita. 

Siapapun yang menghilangkan cincin itu, dituntut untuk menjadi orang yang bisa berkomunikasi yang baik dengan pasangan, jelaskan apa adanya kejadian tanpa perlu ditambahi atau di dramatisir sehingga malah nantinya menjadi tidak baik. Jadi sekali lagi kita tak perlu khawatir jika kehilangan cincin kawin. Yakinlah kalau memang masih rejeki kita pasti bisa kembali lagi. 

Dan seandainya tetap tidak ditemukan juga, lebih baik mengiklaskan dan lebih memikirkan kebahagian kita saat ini dan masa yang akan datang. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kehidupan pernikahan tidak selamanya mulus, kadang ada masa yang sangat membahagiakan, kadang ada juga masa yang cukup sulit untuk dilalui bersama. Namun, semua itu memang harus dihadapi bersama apapun itu tantangannya. 

Mari kita memahami dengan bijak, adanya keretakan rumah tangga itu berawal dari masalah kedua belah pihak yang tidak bisa dipecahkan bersama, dan mengharuskan keduanya berpisah. Perkawinan abadi hanya bisa ditentukan oleh keteguhan pasangan yang bersangkutan, untuk menjaga komitmen masing-masing, sedangkan keawetan cincin kawin sangat tergantung pada cara pemggunaan, penyimpanan, dan perawatan yang dilakukan. 

Cincin yang sempit akan mengganggu kelancaran aliran darah, sedangkan cincin yang longgar akan mudah terlepas dari jari tangan, seperti punya suamiku ini. 

I wanna growing old with you

Bagaimana dengan kalian?, apa punya pengalaman yang sama denganku?. kalian bisa mensharenya di kolom komentar dibawah ini. 

Jika ingin mengikuti update tulisanku, kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku. 

Grüße