content='7496bf2686970bfa' name='yandex-verification'/>

Wednesday, 27 December 2017

Sebelum menutup tahun 2017 ini, aku mau berbagi cerita ke pembaca setia blogku, flash back kembali ke bulan Juni 2016. Sebenernya agak telat pake banget waktu share tulisan mengenai resepsi pernikahan kami di Jerman. Tetapi karena banyak yang bertanya gimana kemaren waktu resepsi di Jerman, seru ga mbak acaranya?, perbedaannya apa sih mbak kalo resepsi di Indonesia dan di Jerman?. Walaupun bener-bener telat, aku coba untuk mengingat lagi cerita resepsi pernikahan kami setahun yang lalu di jerman. 

Ada beberapa perbedaan resepsi pernikahan di Indonesia dan resepsi pernikahan di negara-negara barat. Kalau di Indonesia resepsi pernikahan dilakukan secara besar-besaran dengan persiapan pernikahan yang dilakukan secara dramatis dan menghabiskan dana yg fantastis, di barat justru lebih sederhana dan simple tanpa menghilangkan kesan bahagia. Baeklah aku kupas satu persatu yach cerita bahagia dan keseruan resepsi pernikahan kami di Jerman. 

Persiapan Pernikahan 

Mengurusi pernikahan memang di mana-mana selalu ribet dan susah. Kalau di Indonesia untuk mengurusi pernikahan, ada campur tangan orangtua dalam hal menentukan konsep. Mulai dari pemilihan gedung, catering hingga busana dan riasan, semuanya pasti ada campur tangan orangtua. Sebenernya bagus juga meminta saran dan masukan agar kita tak terlalu stres, karena ribet mengurusi semuanya berdua saja. Tetapi kalau di jerman, kedua mempelailah yang harus memilih dan menyiapkan semuanya. Mulai dari gedung hingga busana, mereka sendirilah lah yang menyewanya. Ribet memang tapi itung-itung belajar untuk menghadapi kehidupan pernikahan, satu persatu diselesaikan dengan kesabaran. Positifnya tanpa adanya campur tangan orangtua artinya mereka lebih bebas menentukan segalanya berdua. 

Keluarga inti & kerabat dekat kami

Semua persiapan pernikahan di Jerman diarranged oleh Silvio sendiri, karena memang pengantin perempuannya masih berada di Indonesia dan lagi deg-degan, menanti visa yang belum kelar-kelar (hehehe curcol ya). Untuk menjamu hidangan makanan bagi para tamu undangan, Silvio memesan makanan dari sebuah Party service. Menu yang disediakan adalah masakan Jerman, dengan kue-kue yang rasanya tidak perlu diragukan lagi, sudah pasti lecker donk. 

Undangan  Pernikahan
Kalau di Indonesia, biasanya untuk undangan setiap pasangan akan mencetak undangan yang didesain khusus, bahkan ada juga yang menyertakan dengan foto kedua mempelai. Tetapi kalau di Jerman pasangan mempelai akan mengedarkan undangan yang simpel saja tanpa foto, ada juga sih yang memakai foto tapi tidak banyak. Ada juga yang membuat undangan dengan kreatifitas mereka sendiri. 

Silvio membeli undangan untuk pernikahan kami di Büchladen (toko buku) dikota tempat tinggal kami, simple banget kan. Dan uniknya kalau di Indonesia undangan akan disebar 2 atau 1 minggu sebelum hari H, tetapi kalau di Jerman undangan sudah disebar dari jauh-jauh hari, 2 atau 3 bulan sebelum hari H, hahaha apa ga kelupaan ya karena terlalu lama?. 

Ternyata memang begitu kebiasaannya, jadi dari jauh-jauh hari mereka sudah meluangkan waktu untuk bisa hadir. Kalau mereka tahu bahwa 2 atau 3 bulan lagi mereka di undang di pesta pernikahan, mereka akan menulisnya di kalender dan dipastikan datang, dan kalau dari awal ternyata tidak bisa hadir mereka akan segera konfirm karena berhalangan. Kalau jarak diundangnya hanya seminggu, dipastikan tidak ada yang datang karena seminggu berikutnya pasti sudah tertera jadwal-jadwal lain yang harus dihadiri. 

Ceritanya, tadinya supaya berkesan unik, aku mau memberikan undangan untuk tamu di jerman berupa undangan kotak dari anyaman pandan, kan unik tuh buat orang barat bisa multifungsi untuk tempat pinsil. Tadinya rencananya sekalian mau aku bawa pas aku berangkat ke Jerman, karena masih ada 10 hari sebelum hari H. Ternyata kata silvio harus dari 3 bulan sebelumnya undangan harus disebar, wehhh mahal ongkos kirimnya mas kalau pake jasa pengiriman, ya sudah batal dech. 

Hari Pernikahan 

Hari bahagia kami menikah di Jerman tanggal 25 Juni 2016, tepatnya dihari Sabtu. Setelah meresmikan pernikahan kami secara hukum negara di Standesamt dikota kelahiran Silvio di Königsbrück kami melanjutkan dengan resepsi pernikahan di hari yang sama. Biasanya di Jerman untuk acara pernikahan kebanyakan dirayakan dihari sabtu, masih ada juga yang dirayakan di hari minggu tetapi memang jarang. Dan yang pasti jarang resepsi digelar di bulan desember sampai dengan Februari karena bertepatan musim winter. 

Menulis harapan dan kebahagian untuk kedua pengantin
Siap-siap menerbangkan harapan yang sudah ditulis di kertas
Menerbangkan balon bersama harapan dan doa 

Tamu undangan 

Tamu undangan yang datang yaitu keluarga serta teman dekat Silvio, kami hanya menyebar 25 undangan, total tamu beserta pasangan sekitar 50 orang. Pesta pernikahan di Jerman memang biasanya dirayakan secara sederhana, tetapi ada juga yang merayakannya besar-besaran. Tak perlu banyak tamu, cukup keluarga terdekat dan sahabat saja yang ada dalam list tamu undangan. 

Teman-teman Club Catur

Aku sempat heran dan bertanya, kenapa tidak mengundang teman-teman kantor atau tetangga dekat rumah, seperti layaknya di Indonesia. Alasannya selain untuk efisiensi budget, karena tidak murah lho mengadakan pesta dengan mengundang banyak orang di Jerman. Selain itu tujuannya jelas, agar semua tamu yang datang saling kenal dan bisa menikmati pesta tanpa ada perasaan canggung antara sesama tamu undangan. 

Teman masa di sekolah
Teman karib saat kongkow
Berbeda dengan pesta pernikahan di Indonesia, yang dihadiri sekitar ratusan bahkan ribuan undangan. Saking banyaknya, bahkan sampai-sampai sang mempelai sendiri pun tidak kenal siapa saja yang hadir di pernikahan mereka. Kebanyakan tamu tersebut berasal dari kenalan-kenalan orangtua, bagi budaya di Indonesia setiap kenalan orangtua harus hadir pada perayaan pernikahan sebagai bentuk penghormatan. 

Malam yang romantis
Lokasi Resepsi
Untuk tempat resepsi kami menyewa tempat, yang biasa untuk dipakai acara party baik pernikahan atau birthday. Tempat yang kami sewa rumah biasa dengan penataan seperti meja dan kursi di restoran. Di Jerman sangat jarang mengadakan acara pernikahan di rumah, seperti yang biasa kita jumpai di Indonesia, apalagi memasang sound system keras-keras, bisa dilaporkan polisi karena dianggap mengganggu.  

Acara Resepsi Pernikahan  

Acara resepsinya dimulai di siang hari jam 15.00 untuk keluarga dan kerabat dekat. Kami makan bersama keluarga dan kerabat dekat di meja makan yang disediakan bersama dan bersulang untuk kebahagiaan kedua mempelai. Sore harinya resepsi untuk teman-teman dan kenalan dimulai pukul 17.00, satu persatu teman-teman silvio datang ditengah guyuran hujan gerimis. 

Kami menyambut kedatangan tamu kami satu persatu, (bukan tamu yang menghampiri mempelai lhooo, tidak ada tempat duduk layaknya pelaminan seperti di Indonesia. Acara dipandu oleh salah seorang teman yang secara sukarela didaulat jadi MC. Dimulai dengan sambutan dari kedua mempelai, menayangkan foto-foto waktu acara pernikahan kami di Indonesia, sedikit bercerita lisan sejarah cinta kami, menunjukkan foto-foto silvio ketika masih kecil, melakukan potong kue, melakukan permainan seru, dan dansa berpasangan. 

Teman-teman silvio juga kompak memberikan kejutan dengan tarian lucu yang sangat menghibur tamu undangan. Karena tamu yang datang tidak banyak, aku dan silvio bisa ngobrol berbaur dengan para tamu. Kalau disini itu, pesta tidak seperti di Indonesia yang hanya butuh 2 jam saja untuk resepsi, disini kami kalau party sampai jam 24.00 hingga jam 1 dini hari. Jadi para tamu undangan tidak hanya menghadiri acara pernikahan selama 30 menit, menaruh hadiah, makan, salaman lalu pulang, tapi meluangkan waktu sehari penuh untuk menghadiri acara pernikahan kami. 

Sobat silvio in action *Man with 3 legs* 


Kok bisa ya dan betah sampai selama itu?. Memang begitu adatnya, karena dipesta ini selain merayakan kebahagiaan kedua pengantin, juga dipakai semacam reuni atau temu kangen disela kesibukan setiap tamu. Biasanya tamu yang hadir melakukan dance dan berbincang sambil ditemenin minuman berakohol baik Wine, Bir, Sechs atau Eierlikör. Kata Silvio, minuman beralkohol membuat kita menjadi betah mengobrol panjang lebar sampai tidak kehabisan bahan bicara hehehehe. 

atraksi tarian dari sahabat
Lucu dan membuat siapa saja tertawa terbahak
Thanks untuk surprisenya
Kado atau bingkisan pernikahan 

Sama seperti di Indonesia, tamu-tamu kami juga memberikan hadiah untuk kami berdua. Kebanyakan mereka membawa rangkaian bunga yang cantik, lengkap dengan kartu ucapan yang biasanya diisi beberapa lembar euro (Geld). Ada yang memberikan kado hasil kreative mereka sendiri. Uniknya kalau di Indonesia biasanya memberikan ampau (uang), hanya dimasukkan diamplop saja, tetapi disini mereka memberikan uang yang dibentuk dengan membuat dekorasi lucu-lucu kreasi mereka sendiri. 

Ampau yang di deko dengan cantik
Katakan cinta dengan bunga

Tradisi atau adat Pernikahan 

Karena Indonesia memiliki banyaksekali adat istiadat dan tradisi pernikahan, maka menikah juga jadi salah satu symbol tradisi. Prosesi menikah adat lokal memang cenderung lebih ribet namun sangat sakral, jelas berbeda dengan prosesi menikah di barat yang intinya pada pengucapan janji setia. Ada tata cara dan aturan yang harus ditaati, agar pernikahan tersebut berlangsung dengan sempurna. Ribet memang, namun di balik semua keribetan itu ada kesan sakral yang ditinggalkan. 

Kalau di Jerman, tradisi tidak terlalu kental dan ditonjolkan, jadi menikah bukanlah sebuah symbol adat istiadat, melainkan sebuah peresmian sebuah hubungan. Suasana sakral tentu tidak terlalu dirasakan oleh pengantin maupun para tamu didalam pernikahan ala barat, acara pernikahan lebih merasakan suasana sukacita western party dengan music, dance dan minuman. 

Di Jerman juga memiliki beberapa tradisi yang biasa dilakukan dalam acara pernikahan. Kami tidak melakukan semua tradisi atau ritual yang ada, tetapi hanya beberapa saja, yang didalamnya tentu tersirat simbol. 

Tradisi menggunting gambar hati, Aku dan silvio secara bersama-sama memotong bentuk hati dari seprai tua dengan menggunakan gunting.. Aku dari sisi kanan dan silvio dari sisi kiri. Aku berhasil lebih dulu selesai menggunting bagian hati yang diminta. Setelah itu, Silvio menggendongku melewati lubang berbentuk hati tersebut. Langkah ini merupakan simbol, bahwa tantangan apapun akan dilalui bersama dan tidak ada lagi yang menghalangi kebahagiaan rumah tangga kami. 

Bersama-sama menggunting gambar hati



Ada beberapa lagi tradisi yang biasanya dilakukan oleh kedua pengantin di Jerman. Aku dan silvio sendiri tidak melakukan tradisi ini, tetapi kalian bisa menyimaknya sebagai tambahan informasi.

Tradisi Polterabend, biasanya berlangsung pada malam sebelum pernikahan. Tradisi acara melemparkan piring untuk keberuntungan, di mana para tamu biasanya membawa beberapa buah piring atau peralatan dapur yang terbuat dari porcelain, dimana barang-barang tersebut merupakan barang bekas yang tidak lagi digunakan dirumah mereka. 

Dalam kesempatan itu sepasang pengantin wajib memecahkan semua barang dari porcelain yang telah dibawa oleh para tamunya. Tradisi unik tersebut dilakukan dalam rangka "memecahkan" masa lalu kedua mempelai yang mungkin terdiri dari hal-hal buruk atau kelam dan dipercaya akan membawa keberuntungan, dimana pada saat mengikat diri dalam ikatan suci pernikahan mereka harus menanggalkan hal tersebut demi memulai kehidupan baru bersama sosok baru selama hidupnya. 

Tradisi Baumstamm Sagen, kayu juga tidak bisa dilepaskan dari tradisi orang Jerman. Pengantin akan diuji di hadapan para tamu undangan untuk bisa menggergaji sebilah kayu dengan gergaji dua sisi. Anggota keluarga yang dituakan akan memberikan kayu untuk digergaji, dan kedua mempelai harus bekerja sama menggergaji kayu hingga terbelah dua. Tradisi ini dimaknai sebagai unjuk kekompakan pengantin yang baru menikah agar mereka bisa melalui tantangan dan rintangan yang kelak akan mereka hadapi dan atasi bersama dalam kehidupan rumah tangga, senantiasa kompak dan selalu bisa memecahkan masalah secara bersama.
Keluarga Inti
Tante, om dan kerabat
Walaupun pesta pernikahan kami berlangsung secara sederhana, namun sangat berkesan sekali untuk kami. Tamu undangan yang datang tampak menikmati pesta sederhana kami, bahkan hingga larut malam. Model mana pun yang kamu pilih nanti, semoga pernikahanmu nanti berjalan lancar dan dikaruniai dengan kebahagiaan ya. 

Budaya dan adat tentu menjadi hal yang sangat membedakan antara upacara pernikahan di Indonesia dengan di Eropa khususnya di Jerman. Semoga tulisanku bermanfaat untuk kalian, "bagaimana dengan cerita resepsi pernikahan kalian? apakah ada adat, budaya dan keseruan yang lain seperti story ku?. jangan lupa untuk mensharenya dikolom komentar ya".

Kalian bisa mengikuti ceritaku sebelumnya mengenai pernikahanku di Indonesia, dengan mengklik Klik Disini Atau juga ceritaku sebelumnya saat menikah di Catatan Sipil Jerman Klik Disini

Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku. Sebelum menutup shareku kali ini ijinkan aku mengucapkan *Selamat Natal 2017, untuk teman-teman yang merayakan Natal, Damai dibumi dan damai dihatimu & Selamat menyambut Tahun Baru 2018, semoga kesehatan dan berkat kebahagiaan serta sukacita senantiasa berada hadir dikeluarga kita masing-masing*. 

 

Grüße von Deutschland 

Efin And Silvio
Posted in

0 komentar:

Post a Comment