content='7496bf2686970bfa' name='yandex-verification'/>

Wednesday, June 28, 2017

HALLO bloggers, ditengah kesibukanku mengurus bayi kecil kami, kali ini aku mau share kelanjutan cerita persalinanku yang sangat penuh perjuangan (cieilahhh....) tapi beneran kok susah banget perjuanganku melahirkan putri pertama kami. Oke lanjut yaa ceritanya.

Tanggal 29 malam aku sudah merasakan kontraksi yang membuat aku kesakitan dan gelisah tidak bisa tidur. Kontraksiku mulai rutin tiap 10 menit, sungguh rasanya betul-betul tidak nyaman seperti orang kesakitan saat menstruasi. Terpaksa bangun untuk kekamar mandi sambil meringis-meringis menahan sakit.

Tanggal 30 Mei aku kembali melakukan pemeriksaan langsung ke RS tempat aku akan melahirkan. Pemeriksaan pertama dilakukan oleh Hebamme dengan melakukan CTG, Karena kontraksinya masih jauh sekitar tiap 7 menit dokter menyarankan untuk memilih pulang tapi paginya datang lagi untuk CTG atau langsung mondok di RS. 

Tentu saja aku memilih untuk pulang, lalu pemeriksaan dilanjutkan dengan USG untuk melihat posisi janinku yang masih saja kepalanya belum mau turun. Dokter yang melakukan USG seorang dokter muda berperawakan atletis dengan wajah latino. Hahaha lumayanlah untuk obat sakit diperutku. 

Aku masih merasa happy waktu dokter bilang aku bisa lahiran normal. Karena saat USG aku dua kali kontraksi akhirnya dokter menyarankan untuk langsung mondok saja dan dibawah pengawasan dokter langsung. Jadilah aku tiduran dikursi tempat melahirkan sambil ditemani suamiku.

Kontraksi masih tetap rutin 7 menit sekali, meringis-meringis Menahan sakit. Dari pukul 8 pagi sampai sore aku menjadi penghuni kreißal (tempat untuk melahirkan). Seorang dokter muda yg pandai berbicara Englisch menghampiri aku, mengatakan bahwa besok aku akan disuntik untuk memicu proses pembukaan menjadi cepat, dan tindakan ini normal dilakukan saat persalinan, tetapi harus sepengetahuan sicalon ibu dan keluarga. 

Selain itu dokter juga menawarkan obat tidur jika malamnya aku tidak bisa tidur karena menahan sakit. Dan karena idealis aku tolaklah penawaran itu, dan dokter muda itu cuma mengatakan okeee kalau anda memerlukannya tolong diinfo ke kami.

Semua petugas RS terutama para dokter, Hebamme and krankenscwester semua memperlakukan aku baik sekali. HEHEHE ceritanya disayang-sayanglah, aku dibuat untuk senyaman mungkin. Sore hari aku dipindahkan ke ruang perawatan family room. Hemmm kamarnya sangat nyaman dengan 2 bed, tv, kamar mandi yg bersih, kommode tisch untuk mengganti popok, dan set meja kursi untuk tamu. 

Semua kebutuhan bayi tersedia komplit baik diaper, baju, dan handuk, serta kebutuhan lainnya. 
Pada saat melahirkan siayah diperbolehkan menginap 1 hari free, tetapi hari lain kalau ingin menginap dikenakan charge 50 euro proTag.  Kalau tidak banyak yang melahirkan jadi masing-masing ibu mendapatkan satu kamar free dengan 2 bed.


Malam harinya perutku mulai saķit lagi dan membuatku tidak bisa tidur. Akhirnya menyerahlah dan memencet bel ke suster untuk meminta tablet obat tidur. Tidak lama hebamme datang dengan membawa 2 tablet obat tidur yang langsung aku minum. Tetapi walaupun sudah meminum 2 obat tidur, tetap saja tidak bisa membuat mataku terpejam tidur, walhasil malam itu kulewati dengan tidak tidur sama sekali.    

Pukul 7 pagi aku keluar dari kamar menuju kreißal seorang diri sambil susah payah jalan. Hebamme menyambutku dan langsung melakukan CTG dan kontraksi sudah rutin 5 menit dan rasanya sudah bener-bener sakit. Hari itu aku diinfus sehingga tidak makan sama sekali. Sebelum disuntik untuk memicu pembukaan, Hebamme menyuntikanku cairan melalui anus. Kalau aku baca tindakan ini dinamakan enema. 

Enema merupakan sebutan pembersihan usus yang biasa dilakukan dengan mengalirkan cairan ke dalam usus besar melalui anus. Saat berbaring Hebamme memasukkan beberapa liter air, melalui selang kecil yang dimasukkan ke dalam anus. Saat air di dalam usus besar, lalu ditahan beberapa saat kemudian air dikeluarkan seperti buang air besar seperti biasa. Semua isi perutku keluar semua, hal ini dilakukan agar pada waktu melahirkan dan mengejan, tidak ada kotoran yang keluar maka dikuras terlebih dahulu isi perut kita.

Kontraksi sudah rutin per 5 menit waktu itu baru bukaan satu dan waktu berlalu lama sekali. Bagi yang belum pernah melahirkan jarak bukaan satu ke bukaan selanjutnya katanya cukup lama, oghhh Tuhan perutku sudah mulas sekali. Aku enggak tahu lagi berapa jam jarak bukaan berikutnya, saat itu bukaan 3 dan rasa sakit ini sudah semakin menjadi. 

Selang beberapa jam berikutnya air ketubanku pecah, dan dokter mengatakan sudah bukaan 5. Air ketuban merembes keluar seperti pipis yang tidak bisa kita tahan. Kontraksi yang kurasakan sudah teratur 3 menit sekali, aku hanya bisa menangis saja. Setelah beberapa jam dokter mengatakan bukaan 7. Aku bener-bener nyaris gila menghadapi semua ini. Biasanya kalau sudah bukaan 5 setelah itu jarak bukaan selanjutnya cepat. Tetapi tidak untuk aku hampir 4 jam tidak ada kemajuan tetap dibukaan 7.

Aku mulai stres karena dokter mengatakan kepala bayiku masih jauh. Jadi kepala bayi tidak bisa turun kepanggul.  Ya Tuhan sakit ini sudah melilit, aku hanya bisa menangis sambil teriak-teriak. Akhirnya dokter anestesi melakukan tindakan Epidural (PDA) melalui punggung. 

Seorang dokter tua yang berperawakan tinggi. Wajah dan berawakannya mirip dengan artis gaek George Clooney, hemmmn tua tapi garis-garis sisa kegantengannya masih ada. Ya ampun itu dokter tidak buru-buru menyuntikan pain reliever ketubuhku, tetapi pake acara memperkenalkan diri dulu. Belum lagi beliau juga memberikan pengajaran kepada koas yang sedang belajar. Aku benar-benar dalam proses menuju kegilaan.

Setelah penyuntikan epidural sakit yang kurasakan mulai berkurang. Aku sudah mulai bisa tersenyum dan Silvio meninggalkan aku untuk makan di kantin. Seorang calon Hebamme yang masih muda menyarankan dan menemani aku untuk melakukan jalan disekitar kreißal, semoga kepala bayinya bisa turun. 

Aku sok gagah berjalan sendiri kekamar mandi tanpa dibantu Hebamme, karena sakitku tidak terasa lagi. Selang 2 jam sakit yang hilang itu datang lagi, ya Tuhan dan semakin parah karena kontraksi tiap menit. Aku berfikir setelah disuntik epidural aku tidak akan kesakitan lagi, tetapi ternyata itu hanya sementara. Aku hanya menangis dan berteriak-teriak memanggil schwester. 

Suamiku antara bingung dan kasihan jadi cuma bisa diam seribu bahasa. Saya bilang kesuami dan schwester agar dipanggilkan dokter anastesi lagi. Hebamme sudah menelpon dokter anestesi tapi sialnya sampai 1.5 jam tidak datang juga.

Pukul 17.00 FreunArzt datang bersama dokter anastesi ke ruang bersalin, melihat beliau datang marahlah aku kenapa baru datang sekarang, sementara aku sudah kesakitan dari 1,5 jam yang lalu. 

Dokter bingung melihat aku berteriak ke beliau, hehehe tapi beliau hanya diam dan maklum menghadapi pasien yang stress kesakitan seperti aku. Aku berteriak-teriak aku mau César saja, ich möchte Kaiserschnitt teriakku. 

Sekali Lagi dokter memberiku suntikan anastesi dengan dosis Yang lebih tinggi. FreunArzt mengatakan lebih baik normal, mereka akan melihat 4 jam Lagi. Ya Tuhan akupun mau normal tetapi kalau aku harus menanggung rasa sakit ini lagi aku sudah tidak kuat, apalagi Obat anastesi hanya bertahan 2 Jam kedepan.

Aku bilang ke dokter anastesi kalau aku kesakitan lagi tolong segara datang, dan beliau mengiyakan seandainya beliau masih sibuk menangani pasien lain, beliau akan mengutus rekannya. Setelah disuntik anastesi sakitpun mereda, aku mulai disuruh untuk berjalan disekitar kreißal. 

Dokter anastesi berusaha mengajakku bercanda, yosefin kami hanya mampu menghilangkan rasa sakitmu sementara, tetapi bayimu akan lahir sekarang giliran kamu yang harus mewujudkannya. Aku tersenyum menanggapi perkataan dokterku.

Setelah 1 jam akhirnya mereka mengambil keputusan. Pada akhirnya aku harus menjalani operasi Cesar. Karena kondisi si ibu sudah sangat lelah dan stres ditambah air ketuban yang sudah banyak keluar, hal ini bisa menyebapkan keracunan bagi sibayi. 

Antara sedih dan senang saat itu perasaanku, sedih karena perjuanganku menahan sakit untuk bisa lahiran normal sia-sia aku juga harus merasakan double sakit pasca operasi cesar. Tapi apa mau dikata ya sudahlah senang karena sebentar lagi bayiku akan lahir.

Berbeda dengan di Indonesia dimana dokter lebih senang melakukan tindakan Cesar, di Jerman bagaimanapun diusahan dulu agar bisa lahiran secara normal. Kalau ada pertimbangan tertentu tidak bisa lagi baru dilakukan tindakan Cesar. Walaupun terkadang hal ini membuat pasien nyaris gila karena harus menanggung rasa sakit yang begitu lama seperti aku. 27 jam aku harus menahan sakit sebelum akhirnya dokter mengambil keputusan cesar.

Sebelum melakukan operasi perawat mencukur rambut kemaluanku (pubis) dengan razor. Pada saat lahiran normal ataupun operasi Cesar, semua perhiasan harus dilepas terlebih dahulu.  Aku dibawa keruang operasi, disana sudah banyak paramedis yang akan membantu proses persalinanku. Mereka berusaha membuat aku rileks dengan nengajakku berbincang. Suamiku ikut masuk juga keruang operasi. Dia duduk diatas kepalaku. 

Saat proses operasi mereka memberi sekat untuk menutupi proses pembedahan. Sebelumnya pahaku diolesi seperti cairan betadine dan bertanya sakitkah, merasa dinginkah?. Seperti sedang tidak melakukan operasi suasananya dibuat sesantai mungkin. Bahkan satu orang duduk disamping suamiku yang mengajakku terus berbincang.

Proses operasinya tidak lama total 15-25 menit, sekitar 5 menit bayiku sudah diangkat. Aku belum mendengar suara tangis bayiku, mereka hanya bilang oghhhhh groß baby, baby Mädchen. Baru setelah dibawa untuk dibersihkan aku mendengar suara tangisnya. Dan akupun hanya diam berdoa dalam hati sambil menangis. 

Setelah bayi dibersihkan baru dibawa keaku dan aku hanya bisa tersenyum sambil menangis, bahkan untuk menyentuhnya aku takut. Bayi yang cantik, berkulit putih seperti kulit papanya dengan rambut yang tebal seperti rambutku. Kami memberinya nama Kathleen Mikhaela Hübner, semenjak dalam kandungan kami sudah membiasakan diri memanggil namanya.


Geschenk vom Himmel

Setelah itu aku dibawa keruang pemulihan, kurang lebih sekitar 1 jam lebih aku dibawa keruang pemulihan. Saat diruang pemulihan satu orang suster bertugas mengawasi perkembangan pasca operasi. Aku merasakan tubuhku gemetar seperti orang kedinginan, dan aku tidak bisa mengendalikannya. Padahal tidak ada AC diruangan, mungkin pengaruh obat  dan karena stress sebelumnya. 

Aku tertidur diruang pemulihan sampai aku bangun dan melihat seorang suster tersenyum didepanku. Perawat menyemprotkan cairan dingin apakah aku bisa merasakannya? kalau belum bisa merasakan cairan dingin yang disemprotkan, diminta menunggu dulu diruang pemulihan. Saat aku bisa menggerakan kedua kakiku, dan merasakan dingin dari cairan yang disemprotkan kekakiku, saat kondisiku sudah  pulih aku dibawa kekamar perawatan.

Malam itu silvio menginap menemani aku di RS. Perkembanganku pasca operasi terus dipantau, suster bolak-balik memantau perkembanganku. Entah infus, mengecek suhu badan, menyuntikan obat anti nyeri. Aku mendapat 2 infus, satunya seperti tas yang berisi cairan pereda nyeri atau pain reliever. 

Malam itu kami lewati dengan istirahat total, kami berdua betul-betul merasa lelah dan tertidur. Walaupun tidak lelap tidur karena sebentar-bentar ada saja yang masuk kekamar untuk memantau perkembanganku, apalagi suhu badanku sempat naik dan aku demam.

Hari pertama saat operasi, kaki kiriku belum bisa untuk menapak penuh, karena pengaruh obat anastesi. Sementara kaki kanan sudah bisa untuk menepak. Dokter kontrol datang untuk mengecek perkembanganku, satu orang suster dibantu suamiku memapah kekamar mandi, untuk membantu membersihkan diri. 

Suster melap badanku, menyabuni, mengganti softexku bahkan membantu membersihkan vaginaku dengan air melalui tabung dengan selang kecil. Betul-betul hebat pelayanan dinegara maju, semua masing-masing punya peran yang mendukung pemulihan yang baik bagi pasien, dan mereka menjalaninya dengan totalitas penuh secara profesional.

Setelah kakiku bisa pulih menepak lantai, kateterku dilepas. Sehingga untuk kegiatan ke kamar kecil harus berjalan. Entah obat apa yang mereka berikan dihari pertama pasca operasi, malam harinya aku sudah bisa berjalan sendiri kekamar mandi. Silvio tidak menginap lagi di RS karena hanya hari pertama saja diberikan ijin. 

Aku berusaha untuk tidak manja, walau awalnya sakit tapi pelan-pelan rasa sakit itu aku lawan, pelan-pelan duduk, berjalan walaupun harus pegangan tembok. Dihari kedua pasca operasi aku harus melakukan kegiatan dikamar mandi sendiri tanpa bantuan suster seperti dihari pertama. Waktu hari pertama masih dibantu karena kakiku belum bisa untuk menepak 100 %, jadi dibantu untuk hari berikutnya harus mandiri sendiri.

Aku jadi ingat waktu adikku melahirkan di RS Fatmawati, sebagai PNS yg memakai fasilitas BPJS kelas satu, adikku harus menahan sakit karena obat pain relievernya habis, dan suster tidak segera datang untuk mengecek sementara adikku orangnya tidak enakan untuk bilang, walhasil kesakitan menahan rasa sakit. 

Bersyukur hal itu tidak terjadi denganku. Selama di RS makanan yang disajikan enak-enak dari makan pagi sampai makan malam dengan menu yang bisa kita pilih. Kita bisa sarapan ala buffet dengan menu lengkap dan sepuasnya di ruang makan, atau minta diantarkan ke ruangan.


Mein Frühstuck
Dihari kedua setelah diobservasi bayiku bisa tinggal dikamar. Hehehe lucu sekali rasanya ada malaikat kecil didekat kami. Akupun diminta untuk menyusui bayiku, masing-masing payudara 15 menit. Hal ini  untuk memacu agar asiku keluar. Puji Tuhan asiku dari hari pertama lancar dan bayikupun pintar sekali minum susunya. Di Jerman tidak dipaksa dan idealis harus asi semua, tetapi dimix dengan susu formula. Karena kasihan bayinya juga jika harus minum asi tetapi tidak cukup pasti bayinya akan menangis terus.

Kembali aku teringat waktu ponakan kecilku lahir, sementara air susu adikku tidak keluar dan adikku idealis hanya ingin memberikan ASI, akhirnya bayinya nangis terus karena minumnya kurang. Disini diajarkan bertahap untuk proses menyusui. Malam hari bayiku tidak tidur bersamaku, tetapi tiap bayiku menangis aku diminta untuk memberi ASI. Pernah suatu malam aku mau istirahat saja tanpa memberikan ASI tapi suster melarang, alasannya harus menyusui karena kalau asinya tidak dikeluarkan bisa menyebapkan siibu demam.

Oghh ya di Riesa Krankenhaus, pihak RS memberikan hadiah bagi orangtua baru berupa Abendessen (dinner) bersama pasangan. Dihari sabtu malam kami diberikan dinner diruangan lengkap dengan menu essen und getränke. Hemmmmm yummy sipp juga pelayanannya.



Unsere Abendessen


Geschenk für neu Eltern

Sehari sebelum pulang bayiku tidur bersamaku dikamar perawatan. Aku sengaja ingin mengetes sampai sejauh mana kemampuanku menghadapi bayiku, karena nantinya aku hanya berdua saja mengurus bayi kami. Dan suster berpesan apabila bayiku ingin minum dan air ASI tidak cukup, aku diminta untuk menelpon kamar perawatan anak. Dan benar saja dari yang tadinya idealis ingin menyusui anakku ternyata bayiku masih menangis karena haus dan akhirnya menyerah juga dimix dengan susu formula.

Aku betul-betul salut dengan pelayanan dan perawatan serta pengobatan yang ada, dihari ketiga perawatan aku sudah bisa berjalan tanpa membungkuk. Sebenernya dari hari ke 2 aku sudah bisa berjalan tapi masih agak membungkuk. Terutama pada waktu akan bangun dari tempat tidur aku harus menggapai penyangga untuk membantu mengangkat badanku, tetapi dihari ketiga aku bisa bangun dan berjalan seperti orang lahiran normal.

Sebelum pulang aku melakukan USG untuk melihat rahim dan juga jahitan operasi Cesarku. Dokter anakpun melakukan pengecekan terhadap bayiku, dan Puji Tuhan hasilnya baik. Aku berada dalam perawatan di RS selama 5 hari, setelah hasil pengecekan hasilnya baik, kami dipersilahkan pulang. Betapa bersyukurnya aku diberi kesempatan melahirkan di negara maju seperti Jerman, karena semua fasilitas kamar, operasi dan dan pelayanan lainnya gratis tanpa keluar uang sepersenpun, semuanya ditanggung oleh asuransi kesehatan.

Seminggu setelah operasi Cesar badan sudah nyaman untuk kembali beraktifitas normal. Bahkan dihari ke 3 saat dirumah aku sudah mulai jalan-jalan bersama silvio dan bayi kecil kami. Walaupun agak pusing jadi jalannya harus pelan-pelan.  So buat kalian yang mendengar cerita kalau lahiran Cesar itu makan waktu pemulihan lama, tapi tidak di Jerman karena pengobatan yang bagus, tenaga medis profesional, fasilitas yang lengkap membuat proses pemulihannya menjadi cepat.

Demikianlah shareku kali ini, mengenai proses panjang perjuanganku melahirkan putri pertama kami. Semoga kami berdua bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak kami, rasa sakit ini mengalahkan kebahagianku menerima anugerah yang begitu berharga dari Sang Pencipta. Malaikat kecilku kehadiranmu membawa warna yang indah bagi papa dan momy . Thanks Jesus for everything.

kalian juga bisa membaca cerita proses melahirkan part 1 di Disini   

Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku.

Grüße

Thursday, June 8, 2017

BLOGGERS kali ini biar agak berbeda shareku Kali ini, aku buat seperti diary disaat proses menjelang dan proses melahirkan. Saat ini kehamilanku masuk usia 38 minggu. Menurut perkiraan dokter anak kami akan lahir 23 mei 2017, jadi kurang 2 minggu lagi bayi kecil kami akan lahir. Berikut ini diary hari-hari menjelang persalinan anak kami: 


  • 11 mei 2017, kontrol kehamilan ke Freunarzt. Setelah usia kandungan 36 minggu frekuensi kontrolnya setiap 1 minggu sekali. Setiap minggu berat badan naik 1 kg, jadi total kenaikan berat badan sebanyak 10 kg sampai dengan minggu ke 38. Dokter seperti biasa melakukan tes vagina dengan memasukkan jari. Menurut dokter posisi kepala anakku sudah dibawah tetapi belum masuk ke pelvis, baru berada di pintu pelvis.
  • 18 mei 2017, kontrol kehamilan ke freunarzt, usia kandunganku saat ini 39 minggu. Berat badanku  bertambah 1 kg lagi, sekarang menjadi 39 kg. Dokterku melakukan tes vagina dengan memasukkan jari kedalam vaginaku. Tetapi Kali ini agak lama memasukkan jari kedalam vagina dengan menekan jarinya, hal ini membuat aku meringis kesakitan. Sepertinya  dokter ingin memastikan  posisi kepala bayiku,  posisi kepala mulai masuk ke pelvis, tetapi  belum turun kebawah. Wahh dek ayo donk masuk ke pelvis supaya Momy bisa lahiran normal. Aku Sering mengajak bayiku bicara, selain nasehat kehidupan aku juga bilang ke babyku supaya dibantu pas lahiran nanti. Hehehe katanya janin sudah bisa mengerti dan bisa memberi respon gerakan saat diajak berkomunikasi. Aku bilang kalau lahir normal, kita ga Perlu lama-lama di rumah sakit, kita bisa langsung maen Ketaman dek.....hehehe.
  • 22 mei, 3 hari kemudian jadwal kontrol lagi kedokter. Frekuensi kontrolnya semakin pendek. Dokter bilang oke Morgen ist die Termin.  Karena seperti prediksi dokter tgl 23 mei babynya lahir, tapi sepertinya dedeknya masih betah didalem perut momy. Pemeriksaannya kembali memasukkan jari kedalam vagina. Haduhhh dokter kembali bilang gut, tapi posisi bayi belum turun ke pelvis. Dokter menyarankan 2 hari lagi harus kontrol.
  • 24 Mei kembali kontrol kedokter, usia kandunganku saat itu 40 minggu. Kemarin sempat keluar lendir bercampur darah kecoklatan. Karena aku udah membaca beberapa artikel jadi ga panik lagi waktu hal ini terjadi. Dari artikel yang aku baca, keluar flek coklat disertai kontraksi rutin/konstan, dan perut kencang merupakan pertanda proses lahiran segera dimulai.  Malem harinya perutku kencang, katanya kalo perut kencang selama kehamilan merupakan pertanda bagus, ada aktivitas didalam rahim, janin sedang bergerak, atau sedang mencari jalan lahir. Tak jarang bahwa perut kencang juga di iringi ngilu di vagina.
  • Tanggal 25 sd 27 mei hari libur di Jerman. Ansencion day dan Man day. Aku berharap sidedek lahir dihari-hari libur ini, karena papanya ada dirumah. Tapi lagi-lagi anakku masih anteng diperutku. Liburan ini aku pakai untuk pergi berenang bareng Silvio, mumpung cuacanya panas jadi hangat kalo berenang diluar. Berenang selama kehamilan baik untuk meregangkan otot-otot yang kaku, selain aku memang hobby berenang. Cuaca Saat itu Kadang panas tapi Kadang dingin, aku agak kedinginan waktu lagi dipinggir kolam renang. Aku merasa ada cairan yang keluar dari vaginaku entah itu pipis atau air ketuban. Dari Yang aku baca air ketuban bisa merembes dalam jumlah banyak tapi juga bisa dalam jumlah Sedikit. Agak kuatir juga waktu itu tapi aku buat santai Karena besok jadwal kunjungan ke dokter di RS.
  • Tanggal 29 Mei, aku kembali kontrol ke freunarzt. kontraksi-kontraksipun sering aku rasakan walau frekuensinya belum teratur. Hemmm kelahiran bayiku bener-bener mundur 6 hari dari prediksi tanggal dokter. Dari hasil pemeriksaan terakhir posisi tidak berubah, kepala bayi belum juga turun sementara kehamilanku memasuki minggu ke 41. Berarti minggu terakhir toleransi kehamilan sementara keadaan masih tidak berubah. Dokter merujuk pemeriksaan langsung ke RS tempat aku akan melahirkan. Menurut beliau persalinan harus segera dilakukan. 
   

    Weghhh pulang kerumah dengan perasaan sedih dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Oghhh Tuhan aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan calon bayiku dan kesehatanku. Persalinan yg ideal biasanya terjadi di usia 38-41 minggu.  Aku berusaha untuk tetap tenang dan jaga asupan gizi untuk janinku. Beberapa teman menyarankan untuk tetap intens melakukan hubungan intim, karena sperma mengandung zat prostaglandin yang memicu kontraksi persalinan, sembari tetap rajin jalan kaki, dan latihan pernafasan hamil. 

    Demikian shareku kali ini,  Ikuti shareku berikutnya ya saat detik-detik persalinan yang penuh perjuangan menghadirkan buah hatiku dikehidupan kami berdua. Kalian bisa membaca shareku mengenai persalinanku selanjutnya Disini

    Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku. 


    Grüße