content='7496bf2686970bfa' name='yandex-verification'/>

Monday, 10 April 2017

HALLO BLOGGERS, sebelum mengikuti Integration Course ini, bahasa Jermanku sangat pasif, walaupun aku sudah menyelesaikan lulus Zertifikat A1. Maklum walaupun sudah beberapa bulan di Jerman aku selalu menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan suami. Tetapi setelah mengikuti Integration Course aku dituntut untuk sebisa mungkin mempraktekan bahasa Jermanku dengan suami, berbicara dengan tetangga, berbelanja, atau pergi ke dokter sendiri. Terlebih lagi dengan teman-teman kursusku dikelas, karena tidak semua dari mereka bisa berbahasa Inggris. 
 
Sekitar 4 bulan sudah aku kursus bahasa Jerman dengan native speaker, malah lebih memudahkan aku memahami struktur gramatik bahasa Jerman. Aku jadi agak sedikit lebih fasih sekarang dibandingkan sewaktu les di Goethe Institut Jakarta. Walaupun beberapa teman-temanku di tempat kursus bilang, logat bahasa Jermanku masih dipengaruhi oleh logat bahasa Inggris, dan aku akui kadang kala penyusunan kalimat bahasa Jermanku, masih dipengaruhi oleh penyusunan kalimat dalam bahasa Inggris yang sebenarnya sangat berbeda. 

Bahasa Jerman memang agak rumit dan sulit, seperti yang pernah aku ceritakan di blog aku sebelumnya klik disini , karena tiap kata punya artikel sendiri, ada kalimat yang huruf depannya besar, tetapi ada juga yang hurufnya kecil, dan gramatiknya itupun berbeda dengan Tense dalam bahasa Inggris. Karena terus terang passionku adalah di bahasa inggris yang sudah aku kuasai sejak kecil. Sementara Bahasa Jerman karena sekarang aku menetap di Jerman mau tidak mau harus bisa berkomunikasi menggunakan Deutsch, walaupun harus belajar lagi.

Terkadang struktur gramatik bahasa Jermanku benar, tetapi kalau aku sudah bicara agak cepat struktur gramatiknya salah. Walaupun begitu orang Jerman juga masih mengerti apa yang aku maksud dengan kalimatku tersebut. Memang Kita harus membiasakan diri berbicara bahasa Jerman dengan struktur gramatik yang benar maka lama-lama kita akan terbiasa. Aku bermasalah dalam mengucapkan kata yang diawali huruf Z dan S, seperti Zeimal (seharusnya dibaca seimal), atau Schule (dibaca zhule). Begitupun dengan pengucapan yang diawali huruf W, wann, (pengucapannya masih versi inggris, seharusnya w nya agak panjang pengucapannya).

Tetapi ya namanya juga belajar harus sering diulang-ulang terus, mendengar cara pengucapan dari online worterbuch langsung. Suamiku bertugas melakukan korigieren saat aku berkomunikasi dengannya, walaupun terkadang karena sering lupa terus dan banyak salah, silvio jadi males membiarkan struktur bahasaku yang salah (yang sabar ya mas londo, sebenernya istrimu ini sekarang sulit untuk menghafal dibanding jaman sekolah dulu, hahaha)

Aku mengikuti Integration Course sejak September 2016 sampai dengan Januari 2017. Dikelas kami harus berbicara in Deutsch, baik dengan unsere lehrerin oder mit unsere freunde. Setiap hari kami belajar dari senin sampai dengan jumat selama 4 jam. Terkadang aku ga mudeng dengan apa yang dikatakan guruku karena minimnya vocabulary yang aku punya, sementara teman-teman sudah lama tinggal di jerman dibandingkan aku yang baru 3 bulan dan gabung dikelas A2. Mau tidak mau aku harus berusaha terbiasa dengan situasi ini dan tentunya harus menambah perbendaharaan kata kalau tidak ingin jadi penonton.

Setelah menyelesaikan kursus selama 600 jam, aku diwajibkan untuk mengikuti DTZ Prüfung (Deutsch-Test für Zuwanderer) atau dengan kata lain Ujian test Bahasa Jerman untuk Imigran. Bobot penilaian untuk dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat B1 minimum 65% dari keseluruhan total hasil ujian yang terdiri dari 25% schreiben atau menulis, 25% lesen atau membaca, 25% hören atau mendengarkan, dan 25% Mündlich atau percakapan.

Sebelum Ujian berlangsung, satu bulan sebelum ujian pelajaran diisi dengan Prüfungstraining. Setiap hari kami training untuk lesen , schreiben, hören ataupun sprechen. Selama latihan soal sebulan ini, memang nilaiku baik dan hasilnya memenuhi kriteria lulus. Ada satu kejadian fatal yang menjadi pelajaran buat aku, aku berharap teman-teman memperhatikan hal yang menurut aku ini sepele, tapi sebenernya penting banget.

Sebelum mengikuti kursus ini, kita diberikan schedule atau zeitplan selama periode belajar. Baik kapan waktu belajar, kapan libur, dan kapan jadwal ujian dilaksanakan. Usahakan untuk memfoto copy jadwal ini dan disimpan dengan baik. Jangan seperti saya yang menganggap remeh tidak melakukan FC dan menyimpan jadwal, tetapi hanya mengingat-ingat saja, Yang fatal adalah aku mengira ujian Zertifikat B1 akan diselenggarakan bulan Februari, padahal ujian itu dilaksanakan bulan Januari, sementara aku belum belajar secara maksimal untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian. 3 hari sebelum ujian dilaksanakan aku baru tau bahwa 3 hari lagi ujian bukan dibulan Februari. Ya Tuhan Yang Maha Esa bagaimana bisa ini terjadi??????.

Bisa terbayang kan teman-teman betapa bodohnya aku, aku mengingat ujian dilaksanakan bulan Februari, memang betul ada ujian akhir di bulan Februari, tetapi bukan ujian Zertifikat B1 melainkan ujian Leben in Deutschland atau Orientierung prüfung. Beruntung selama libur Natal Kemarin aku sudah sedikit belajar latihan soal-soal ujian TELF, latihan soal-soal ujian Zertifikat B1 melalui online di google ataupun youtube. Paling tidak sudah ada persiapan walaupun tidak maksimal.

Ujian dilaksanakan di hari Jumat, dari 12 peserta kursus yang pada akhirnya bertahan sampai ujian ada 9 orang. Yang 4 orang tidak melanjutkan kursus, 2 orang merasa kesulitan akhirnya malas datang, 1 orang tidak serius ikut kursus, sering absen dibandingkan hadir, walaupun dia sebenernya cukup aktif dikelas, dan 1 orang kembali ke negaranya. Kami mendapat tambahan 1 orang Suriah yang bergabung dengan kemampuan bahasa Jerman yng cukup baik. Jadi total peserta kursus yang ikut ujian ada 9 orang.


Zertifikat B1

Saat Pelaksanaan Ujian Saat ujian kami duduk sendiri-sendiri sesuai denah yang dibuat, dan aku duduk paling belakang. Sebenernya aku lebih suka duduk didepan dibandingkan dikursi belakang. Setiap ujian ada 2 orang Prüferer, HP dan atribut tas dikumpulkan disatu tempat. Ujian pertama dimulai dengan : Hören selama 25 menit , dengan jumlah soal sebanyak 25 pertanyaan, waktu ikut ujian Zertifikat A1 soal diulang sebanyak 2 kali, tetapi di ujian B1 hanya diulang satu kali. Buat aku sebagai Auslander atau pendatang tentu saja kesulitan, ekstra dituntut konsentrasi penuh dan fokus pada setiap percakapan yang kita dengar, karena soal hanya dibacakan satu kali. kalau tidak konsentrasi hasilnya pasti kacau. Tempo berbicara di sini jauh lebih cepat dan gaya percakapannya agak sulit dimengerti, jadi jangan sampai kamu ngelewatin setiap bagian percakapan. Aku tidak yakin hasil hörenku bagus karena banyak yang salah setelah aku coba ingat-ingat untuk dikoreksi, hemmm kacau balau versi satu.

Lesen terdiri dari 5 Teile; teks mengenai Blog, artikel dalam Koran, mencocokan iklan, pernyataan setuju/tidak setuju, juga mengenai peraturan. Soalnya terdiri dari 25 pertanyaan dengan waktu hanya 45 menit. Saat mengerjakan Lessen aku berusaha untuk mendapatkan hasil yang baik, untuk menebus ketidakyakinanku di test Hören. Tapi aku kelamaan mengerjakan soal lesen di 10 soal awal, karena agak susah saya fokus banget dan habislah waktuku disitu sementara waktu tinggal 10 menit lagi dan masih ada 15 soal yang belum aku kerjakan. Hal ini terjadi karena aku tidak melihat tulisan yang ada di papan tulis bahwa waktu yang disediakan hanya 45 menit untuk 25 pertanyaan, jadi setiap soal kamu hanya dikasih waktu berfikir kurang dari 2 menit.

Entah karena duduk dibelakang aku tidak lihat dan mendengar perkataan prüferin, entah juga karena hamil jadi ga fokus. Karena panik aku berteriak-teriak didalam kelas Oh My God.......oh My God, semua teman melihat kearahku dikiranya aku mengalami kram perut. Pruferin berusaha menenangkan aku dengan menepuk-nepuk bahuku, khawatir kali yaa kalau terjadi sesuatu serius dengan kehamilanku karena aku panik. Ya sudah ku coba untuk menyelesaikan 15 soal yang belum aku kerjakan dengan sisa waktu yang hanya 10 menit (bisa dibayangkan aku tidak membaca secara detail, hanya kilat dan lebih pake feeling kali ya, hehehe.....). Aku lebih mencari maksudnya dengan melihat konteks yang ada, bener-bener kacau balau versi kedua.

Schreiben waktunya selama 30 menit, ujian ini ada 2 Teile cerita. Kami diminta untuk menulis e-mail dengan memilih salah satu dari 2 Teil yang ada. Aku menulis mengikuti poin-poin yang diminta dalam soal. Saat ujian Schreiben ada baiknya hindari repetisi kata, lihat grammatiknya juga. Pahami benar perintah saat ujian schreiben apa yang diminta menulis Email atau Brief (surat).

Ujian Sprechen terdiri dari 2 Teile. Di mana bagian pertama kita diuji untuk ngobrol dengan partner ujian kita (perkenalan atau vorstelung) , dan bagian kedua kita diuji bagaimana kita berbicara mengenai suatu topik. Untuk bisa lulus ujian ini, ada baiknya memang kita harus terbiasa berbicara dalam bahasa Jerman. Jangan banyak ‘mmm…anu…mmm’, biasa saja, pelan tapi terdengar dan jelas.

Setelah pelaksanaan Ujian Infomasi lulus tidaknya ujian diinformasikan via surat oleh Bundesamt für Migration dikirim ke Volkshocschule. Setelah 3 minggu hasilpun keluar, (agak lama ya). Kepala sekolah di Volkshochschule menginformasikan akan diumumkan hari kamis. Kami memang akan mengikuti Ujian Leben in Deutschland dihari kamis itu, dan setelah selesai rencananya akan diumumkan dan sekaligus penyerahan Zertifikat. Tetapi karena kami sangat kepikiran, dua hari sebelum pengumuman akhirnya kami ber4 menghadap kepala sekolah menanyakan apakah kami lulus atau tidak.

Dengan berbagai argumen dari kami akhirnya kepala sekolah memberikan info, dengan catatan apapun hasilnya tidak akan menggaggu ujian Orientierung Course. Dan ternyata dari 4 orang yang menghadap hanya aku yg lulus, dari 9 orang peserta 4 orang dinyatakan lulus dan 5 orang dinyatakan tidak lulus. Thanks My Jesus siibu hamil ini walaupun kacau balau kemarin, tetapi Puji Tuhan tetap bisa lulus. Jujur walaupun lulus hasilnya pas-pasan, tidak memuaskan untukku

Hasilnya jauh lebih baik pada saat latihan ujian. Tetapi ya karena kurang persiapan ditambah gugup,maka hasilnya tidak maksimal. Untuk Hören/ lesen saya tidak lulus, masuk kriteria A2 karena kurang satu poin lagi. Tapi mungkin karena nilai Schreiben dan Sprechennya lulus jadi tetap diperhitungkan untuk lulus Zertifikat B1. Aku tidak tahu kalau 2 point lulus tapi Hören aku kurang 3 nilai tetep lulus atau tidak. Stress juga kalau kurang 1 point di hören akhirnya saya tidak lulus dan harus mengulang 3 bulan lagi.Yang jelas untuk amannya kalian harus bisa mendampatkan minimal point untuk syarat kelulusan yang diminta. Teman Suriah saya sprechennya *wunderbar* sekali, sie hat 93 punkte aber nicht bestanden, ya karena itu hasil hören,lesen dan schreibennya dibawah rata-rata.

Zertifikat B1 Syarat kelulusan yang diminta untuk lulus Zertifikat B1;

Hören/Lesen : 33-45
Schreiben : 15-20
Sprechen : 75-100

Tips Persiapan Teknis menghadapi Ujian B1


  • Siapkan persayaratan Administrasi yang wajib di bawa , 
  • pensil 2B, dan penghapus. 
  • Datang lebih awal. 
  • Baca informasi awal di lembar pertama soal dengan cermat. Belajar dari pengalaman saya, Perhatikan waktu selesainya, bawa arloji untuk kontrol waktu. 
  • Untuk test Lesen, jangan terlalu lama berkutat pada setiap soal. Karena waktu yang disediakan hanya 2 menit untuk menjawab setiap soal
  • Untuk test Schreiben, pastikan semua point yang diminta terpenuhi. 
Saat ujian Zertifikat A1 di Indonesia, semua lembar jawaban dikumpulkan pada saat ujian selesai, tetapi di Ujian zertifikat B1 setiap selesai masing-masing materi, lembar jawaban langsung dikumpulkan, jadi tidak bisa membaca dan mengecek lagi apakah jawaban kita benar atau salah. Jadi memang Efisiensi waktu betul-betul harus diperhatikan.

Tips Persiapan Materi menghadapi Ujian B1


  • Sering latihan sendiri menggunakan contoh-contoh soal yang ada di Internet dan buku. 
  • Buat daftar kosakata yang sering kita lupa artinya dan tuliskan terjemahannya. 
  • Sering latihan menulis surat maupun Email Untuk ujian Sprechen, latihanlah bersama teman kursus jauh hari sebelumnya. 
  • Latihlah percakapanmu dalam berbagai macam kasus, untuk materi dapat dilihat di internet atau buku-buku latihan. 
  • Saat test berbicaralah perlahan namun jelas artikulasinya. 
Demikian sharingku saat melakukan persiapan dan pelaksanaan ujian. Semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman yang akan mengikuti Ujian Zertifikat B1. Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku.
Grüße
Posted in

0 komentar:

Post a Comment