content='7496bf2686970bfa' name='yandex-verification'/>

Sunday, April 30, 2017

BLOGGERS walaupun saat ini musim Frühling di Jerman, matahari kadang masih sembunyi, walaupun seharusnya saat ini sudah saatnya untuk muncul setelah dirindukan lama oleh kami. Saat ini usia kehamilanku memasuki usia 9 bulan, dan hari ini aku mau share pengalamanku selama kehamilan di trimester 3 ini. 

Kehamilan Trimester 3

Diusia kehamilan trimester ketiga pemeriksaan kehamilan menjadi 2 minggu sekali. Pemeriksaan yang dilakukan biasanya pemeriksaan CTG, pemeriksaan CTG dilakukan pada trimester ketiga (setelah 36 minggu) kehamilan. CTG bertujuan untuk mengukur denyut jantung janin dalam menanggapi gerakan sendiri. 

Bayi yang sehat akan merespon dengan peningkatan denyut jantung selama masa gerakan, dan denyut jantung akan berkurang saat istirahat. Kita diminta berbaring, dan Arzthilferin mengoleskan cairan dingin seperti jelly pada perut, untuk membantu mendapatkan sinyal yang kuat. Alat yang digunakan untuk memonitor jantung bayi ditempatkan pada perut, dan dibalut dengan sabuk elastis. 

Senangnya karena aku dapat mendengar denyut jantung janinku, aku diminta untuk menekan tombol pada mesin setiap kali bayi bergerak. Tetapi sepertinya sidedek ga suka kalau dipasangi alat seperti ini, karena setiap kali dipasangi alat CTG janinku jarang bergerak, tapi kalau sudah dilepas baru bergerak aktif (aduh sayangku ada-ada saja......). 


Pemasangan alat CTG


 
Hasil Pemeriksaan CTG

Pemeriksaannya cukup lama kurang lebih 30-40 menit untuk mengetahui hasil pemeriksaan ini. Setelah kelar dokter akan membaca hasil berupa print out dari denyut jantung janin kita. Aku kurang paham bagaimana cara membaca hasil pemeriksaan CTG ini, tetapi dokter akan menginformasikan kekita dengan bahasa yang bisa dimengerti orang awam seperti aku.  

Dikehamilan usia 7 bulan nafsu makanku meningkat bawaanya lapar terus (hehehe), mulut ini sudah enak diajak kompromi menikmati makanan enak. Silvio bilang makan saja yang suka, karena sebelumnya aku tidak bernafsu makan.

Saat usia kandungan 8 bulan selain CTG dokter juga melakukan pemeriksaan USG eksternal, dan beliau bilang berat bayiku 1,5 kg (waghhh amaze banget), pantes sekarang perutku sudah keliatan membesar. Berat badankupun meningkat 4 kg selama 2 bulan ini. 

Selain pemeriksaan USG eksternal dokter juga melakukan pemeriksaan pelvis atau panggul. Dikehamilan trimester ketiga ini setiap periksa kandungan kedokter, dokter pasti melakukan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini untuk melihat kesehatan organ reproduksi wanita, termasuk ukuran dan posisi organ di bagian perut.

Persalinan dapat berlangsung dengan baik atau tidak tergantung pada luasnya jalan lahir yang terutama ditentukan oleh bentuk dan ukuran-ukuran panggul. Makanya  pengukuran panggul ini perlu untuk melihat apakah persalinan dapat berlangsung normal atau tidak. 

Katanya bukan jaminan bagi wanita yang udah beberapa kali melahirkan anak  dianggap mempunyai panggul yang cukup luas. Walaupun begitu jalan lahir  yang dulunya tidak susah, kadang-kadang dapat menjadi sempit, misalnya kalau timbul tumor tulang (exostose, osteoma, osteofibroma dll) dari tulang panggul/ tumor dari bagian lunak jalan lahir.

Terus terang kurang nyaman untuk aku, karena aku harus duduk dikursi khusus, dan mengangkat kakiku keatas dengan posisi mengangkang, dengan menggunakan sarung tangan dokter memasukkan jari ke vagina, selagi menekan bagian bawah perut di bagian luar. Walaupun disana ada perawat dan pastinya dokterku bekerja secara profesional, tetap saja aku malu karena dokterku pria dan tidak terbiasa seperti itu. Tapi balik lagi ya sudahlah demi pemeriksaan untuk kesehatan aku dan janinku.


Kursi untuk pemeriksaan pelvic

Catatan kesehatan selama hamil trimester ketiga: 


  • Usia kehamilan 28 weeks  BB 51 kg 
  • Usia kehamilan 32 weeks  BB 53 kg 
  • Usia kehamilan 34 weeks  BB 55 kg 

Persiapan Melahirkan

Pada saat kandunganku memasuki usia 32 minggu aku mulai mencari hebamme (bidan). Disarankan untuk mencari Hebamme dari jauh-jauh hari, terutama bagi kamu yang tinggal dikota kecil seperti aku. Kalau tidak booking dari jauh-jauh hari pasti sulit, karena keterbatasan Hebamme. 

Kalian bisa mencari daftar nama mereka melalui internet dikota terdekat tempat tinggal kita, atau minta bantuan Freunarzt untuk memberikan list daftar Hebamme yang bertugas, biasanya mereka menyediakan list Hebamme yang masih aktif. 

Bidan ini yang nantinya akan membantu ibu hamil mulai kandungan 35 minggu sampai usia bayi 2 bulan. Bidan akan melakukan kunjungan kerumah untuk memantau dan membantu ibu dalam melakukan perawatan bayi atau membantu jika siibu ada keluhan selama kehamilan atau selama masa perawatan bayi. 

Semua biaya pelayanan bidan ditanggung oleh Asuransi, selama 12 kali melakukan kunjungan. Hebammeku seorang wanita muda dan cantik, namanya Kelly Merkel. Kelly memang bukan bidan yang bertugas di RS tempat aku melahirkan nanti, kelly bertugas di RS di kota Torgau didekat kota kami. 

Karena aku tinggal dikota kecil, di Oschatz tidak ada RS bersalin dikota kami, sehingga kami harus mendaftarkan diri untuk persalinan dikota terdekat tempat tinggal kami, dikota Riesa yang jaraknya 20 menit dari kota kami. Sebelumnya menurut Silvio, dikota Oschatz ada RS bersalin tetapi tutup 1 tahun yang lalu, mungkin karena merugi ya karena tidak terlalu banyak angka kelahiran dikota kami, karena penduduknya memang tidak banyak. 

Aku mulai mendaftarkan diri di RS bersalin Anmelden alias registrasi untuk Entbindungtermin aku, saat kandunganku berusia 34 minggu. Setelah menghubungi RS kami membuat janji untuk berkunjung ke RS tempat aku akan melakukan persalinan. 

Pada waktu itu  Hebamme dan krankenschwesterinnen yang kasih penjelasan singkat tentang proses kelahiran di rumah sakit setempat. Pada saat proses registrasi, aku di interview dengan Hebamme di RS, mengisi data, kemudian kita dikasih beberapa formulir yang salah satunya adalah Nabelschnurblut-für mehr als nur ein Leben

Selain itu kita juga dikasih formulir PDA atau Epidural, dan penjelasan mengenai fasilitas yang kita dapat jika aku melahirkan di RS. Kita diajak melihat langsung Kreißsaal dan melihat kamar pasien. Kita dikasih penjelasan tentang;  zimmer kita yang kita pilih nanti, berapa hari kita bakal nginep, baby dan ibu tentang menyusui dan pentingnya asi , fasilitas Mahlzeiten, baby photography juga lho dan itu gratis.

Hemmmm sebenernya selain kegiatan diatas  ada beberapa kegiatan yang ditawarkan untuk ibu hamil sebelum pra melahirkan. Buat kamu yang tinggal dikota besar tentunya kamu bisa mengikuti Geburtvorbereitungkurs atau kursus persiapan melahirkan, dan itu semua Gratis. 

Ditempatku ada 2 tempat yang menyelenggarakan kursus ini, tetapi saat aku mencoba menghubungi tempat kursus telat padahal kehamilanku waktu itu baru 32 minggu, sudah full katanya alias terlambat, dan tempat satunya tidak bisa dihubungi (aghhhh sedihnya).

Dari informasi yang aku baca, kursus ini 8 kali pertemuan dan setiap pertemuannya 2 jam, dan waktunya  seminggu sekali, Katanya sih pada saat usia kehamilan 29 atau 30 minggu harus mulai cari Geburtvorbereitungkurs

Kursus ini bisa diambil di klinik bersalin, rumah sakit atau hebammenpraxis ,yang menyediakan kursus ini. Kalau kamu sudah dapat tempat kursusnya, kamu tinggal kirim Anmeldung atau pendaftaran. Kamu akan mendapat E-mail dan surat bahwa kamu sudah terdaftar, dan tinggal tunggu aja waktu kursusnya.Kursus ini dicover asuransi, kalau suami ikut bayar 50 Euro untuk 8 kali datang.

Materi yang diajarkan:
  • Sesi 1: Latihan senam, materi anatomi dan fisiologi kehamilan, pijat, relaksasi, dan isi grafik tentang kehamilan
  • Sesi 2: Latihan senam, materi kontraksi, Latihan pernafasan saat kontraksi, Pijat, Materi perawatan bayi
  • Sesi 3: Latihan senam, Latihan pernafasan saat kontraksi, Pijat, Materi nyeri
  • Sesi 4: Latihan senam, Pijat pasca kontraksi , Materi proses melahirkan, Simulasi posisi saat kontraksi, Koreksi pernafasan saat kontraksi , Pijat
  • Sesi 5: Sesi kunjungan ke ruang melahirkan dan kamar inap
  • Sesi 6: Latihan senam Relaksasi, Materi anatomi dan fisiologi menyusui, Pijat ayah untuk ibu menyusui, Materi cara menyusui, Latihan posisi melahirkan
  • Sesi 7: Latihan senam, Materi kehidupan bersama bayi, masa nifas, Simulasi posisi kontraksi, Koreksi pernafasan saat kontraksi

Hiksss sedih banget kan, kalau melihat seperti ini yakin kursus ini recommended lah buat mamah muda kaya aku ini yang belum punya pengalaman melahirkan. Selain nambah ilmu juga nambah teman, tetapi apalah daya *TERLAMBAT SODARA*. Dan Silvio menghibur aku, mamanya dulu  juga tidak ikut kursus ini, toh  baik-baik saja. Iya tapikan bagus juga untuk aku yang boring karena ga punya kegiatan hanya dirumah saja, aghhhh suamiku ini, bisaaa ajaaa.

Selain kegiatan Vorbereitungkurs kita juga bisa mengikuti kegiatan Akupuntur, syaratnya setelah kehamilan masuk trimester 3. Biasanya disediakan di RS tempat kita melahirkan atau diklinik kebidanan. Katanya sih manfaatnya bisa mengurangi nyeri pada saat kontraksi maupun melahirkan, dan biasanya yang ditusuk hanya bagian kaki saja. 

Aku belum pernah punya pengalaman melakukan akupuntur tapi katanya sih  ada empat titik yang tusuk jarum per kaki. Pas ditusuk rasanya kaya sengkring seperti kesetrum, ngilu dikit tapi cepet hilang, yang paling sakit itu pas di jari kaki. Durasinya 20 atau 30 menit dengan biaya 15€, jadi tidak gratis lho. Akupuntur gratis diberikan pada saat proses bukaan,  kalau mau bisa minta akupuntur dan biayanya ditanggung askes.

Pada saat kehamilan memasuki usia 36 minggu, Freunarztku memberikan rujukan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan di RS tempat aku akan melahirkan. Di Jerman berbeda dengan di Indonesia, kalau di Indonesia Gynekology yang memeriksa kandungan kita setiap bulanlah yang nantinya akan membantu kita pada saat proses persalinan. 

Tetapi di Jerman pada saat persalinan nanti Gynekologi di RS yang akan menghandle selama persalinan, bahkan informasi yang aku peroleh dari web yang saya baca, justru nanti bidanlah yang akan lebih berperan jika kehamilan terjadi secara normal.

Pemeriksaan kehamilan di RS di kota Riesa dilakukan oleh seorang Hebamme terlebih dahulu yang melakukan cek CTG. Puji Tuhan hasilnya bagus walaupun ada sedikit kontraksi. Lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan yang dilakukan dokter melalui USG. Dokter yang memeriksa aku sepertinya bukan dokter asli Jerman, karena tidak begitu banyak berbicara dalam memberikan keterangan saat USG. Biasanya kalau dokter Jerman pasti sudah banyak bicara menerangkan a sampai z dengan suami.

Berat janinku saat kehamilan 36 minggu 2,5 kg, waghhhh dedek tambah besar ya. Makanya sekarang sering banget uget-uget dalam perut momy, makin sempit ya tempat bermainnya?. Posisi kepala bayiku belum turun ke panggul tetapi kata dokter akan bertahap. Waghhh dek mudah-mudahan posisi kepalanya ready ya masuk ke panggul momy. 

Dokter juga menjelaskan persalinan biasanya terjadi pada minggu ke 39 sd 41. Kalau bayinya terlalu besar dan panggulnya kecil maka harus operasi Cesar begitu juga kalau setelah minggu ke 41 tidak ada tanda kelahiran maka akan dilakukan Cesar. Waduhhhh dek semoga momy bisa melahirkan normal ya, dibantu ya, dibantu  ya sayang.

Menjelang usia kandungan di minggu ke 38, ibu hamil sering mengalami kontraksi. Selanjutnya pada minggu ke 39 maka kondisi gerakan janin tengah siap menghadap jalan lahir. Selanjutnya di minggu akhir seperti pada usia kehamilan minggu ke 40 ditandai dengan kondisi rahim yang semakin sempit, dan biasanya pada minggu ini terjadi proses kelahiran. 

Dalam doaku semoga menjelang persalinan, kami semua diberikan kesehatanŕ dan pada saat persalinan nanti semuanya berjalan lancar, bayi kami lahir selamat kedunia sehat dan sempurna. Doakan ya teman-teman akupun sehat tak kurang suatu apapun.  Oke demikian shareku di kehamilan trimester ketiga, semoga berguna untuk kalian semua, terutama yang sedang menantikan datangnya sibuah hati.

Untuk temen-temen yang ingin membaca share kehamilan saya ditrimester sebelumnya, bisa diklik disini:
cerita kehamilan trimester kedua
cerita kehamilan trimester pertama

Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku.

Grüße

Monday, April 24, 2017

BLOGGERS bagi kamu warga negara Indonesia yang menetap di Jerman lebih dari 30 hari, atau yang intinya visa kamu bukan visa turis, diwajibkan untuk melakukan lapor diri ke KBRI di Jerman. Saat ini aku akan menulis tentang cara lapor diri ketika kamu baru datang dan akan tinggal, menikah ataupun ketika kamu punya anak di Jerman. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan lapor diri ?, sebenarnya tidak ada batasan tapi secepat mungkin tentunya lebih baik. Lalu kenapa harus lapor diri?. Untuk mengantisipasi hal-Hal yang tidak diinginkan seperti Kecurian, Kecelakaan, Bencana alam, Sakit parah, atau bahkan meninggal dunia, yang mana dapat menyebabkan keluarga di Indonesia kehilangan kontak. Dengan adanya proses lapor diri, segala identifikasi dan kesulitan yang dialami akan lebih mudah penanganannya. 

Sebagai tindak lanjut dari bentuk pelayanan maksimal. Saat ini diera komputerisasi segalanya diusahakan untuk dibuat mudah, KBRI Berlin telah melakukan terobosan berupa penyediaan aplikasi online LaDi (Lapor Diri) yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja oleh WNI di Jerman menggunakan komputer maupun telepon seluler pintar (smart phone). Kita tidak perlu ribet untuk datang langsung ke kantor perwakilan KBRI di wilayah tempat tinggal kita, tidak perlu mengirimkan dokumen secara manual, karena semuanya saat ini bisa diupload dan dikirim melalui internet. Untuk alamatnya bisa diakses diweb ini,  Di klik diisini webnya

Jadi jangan dijadikan alasan untuk berlama-lama seperti saya (hehehe). Memang jujur karena saya mau melahirkan dan segera punya anak, sebagai orang tua yang anaknya memiliki kewarganegaraan ganda, saya harus menyiapkan segala dokumen yang dibutuhkan, termasuk lapor diri ke KBRI Jerman. Pada saat menggunakan aplikasi ini, semua data yang diperlukan sebaiknya disiapkan terlebih dahulu dalam bentuk soft file dengan ukuran maksimum 6 MB , yang terdiri dari :
  1. paspor yang berlaku (biasa atau dinas atau diplomatik), 
  2. nomor telepon seluler, 
  3. pas foto,
  4. Meldebescheinigung (surat daftar diri dari Auslanderbehörde), 
  5. Ijin tinggal
  6. Akte lahir, dan dokumen sekolah/universitas. 
Proses mengunggah data hanya memerlukan waktu yang relatif singkat dan dapat dilakukan dengan cepat.
Setelah selesai  update data yang diperlukan, barulah data yang kita input kita print dan kita kirim beserta dengan Paspor asli kita ke KBRI wilayah tempat tinggal kita. Karena saya berdomisili di Oschatz di wilayah Sachsen maka saya mengirimkan paspor saya ke perwakilan KBRI Berlin. Kedutaan Besar RI-Berlin beralamat di ;
Lehrter Str. 16-17 
10557 Berlin, Republik Federal Jerman 
Telp.: +49-30-47807-200 Fax : +49-30-44737-142 

Berikut ini Kantor perwakilan KBRI di Jerman berdasarkan wilayah kerja; 

1. KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA BERLIN 
Wilayah kerjanya: Berlin- Brandenburg- Mecklenburg- Vorpommen- Sachsen- Sachsen Anhalt- Thüringen 

2. KONSULAT JENDERAL REPUBLIK INDONESIA – FRANKFURT AM MAIN
Wilayah kerja: Baden-Württemberg – Bayern – Hessen – Nordrhein-Westfalen – Rheinland-Pfalz – Saarland 

3.KONSULAT JENDERAL REPUBLIK INDONESIA – HAMBURG Wilayah kerja: Bremen – Hamburg – Niedersachsen – Schleswig-Holstein 

Pada saat kita mengirimkan data Lapor diri dan Paspor asli sertakan pula amplop didalamnya sebagai amplop balasan yang sudah disertai alamat lengkap kita dan perangko secukupnya. Tulis di amplop surat yang kita kirim ke kantor perwakilan KBRI dipojok kanan atas *Dokumen Lapor diri*. Supaya aman kita mengirimnya dengan surat tercatat atau Einschreiben. Bilang saja pada petugas kantor pos, kita mau mengirimkan dokumen menggunakan Einschreiben, harganya 3,95 euro sudah termasuk dengan perangko dan petugas akan menempelkan stiker pos tercatat  (Einscreibenmarke). Karena ada amplop balasan total yang saya bayarkan sebesar 7,90 euro. 

Begitu proses  pencatatan lapor diri selesai petugas KBRI akan mengirimkan paspor asli kita berikut stiker bahwa kita sudah lapor diri. Proses pengiriman paspor aslipun sangat cepat, dalam 3 hari proses kerja sudah selesai. Berikut ini contoh paspor yang sudah ditempeli stiker lapor diri.
Paspor dengan stiker Lapor Diri
Nah gampang bukan proses pengajuan lapor diri, ayo segera laporkan diri kita. Semoga tulisanku ini bermanfaat buat kamu semua. Kalian bisa mengikuti tulisanku berikutnya mengenai perpanjangan paspor di KBRI di Jerman, Silahkan Klik Disini untuk mengetahu informasinya. 

Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku.
Grüße


Monday, April 10, 2017

HALLO BLOGGERS, sebelum mengikuti Integration Course ini, bahasa Jermanku sangat pasif, walaupun aku sudah menyelesaikan lulus Zertifikat A1. Maklum walaupun sudah beberapa bulan di Jerman aku selalu menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan suami. Tetapi setelah mengikuti Integration Course aku dituntut untuk sebisa mungkin mempraktekan bahasa Jermanku dengan suami, berbicara dengan tetangga, berbelanja, atau pergi ke dokter sendiri. Terlebih lagi dengan teman-teman kursusku dikelas, karena tidak semua dari mereka bisa berbahasa Inggris. 
 
Sekitar 4 bulan sudah aku kursus bahasa Jerman dengan native speaker, malah lebih memudahkan aku memahami struktur gramatik bahasa Jerman. Aku jadi agak sedikit lebih fasih sekarang dibandingkan sewaktu les di Goethe Institut Jakarta. Walaupun beberapa teman-temanku di tempat kursus bilang, logat bahasa Jermanku masih dipengaruhi oleh logat bahasa Inggris, dan aku akui kadang kala penyusunan kalimat bahasa Jermanku, masih dipengaruhi oleh penyusunan kalimat dalam bahasa Inggris yang sebenarnya sangat berbeda. 

Bahasa Jerman memang agak rumit dan sulit, seperti yang pernah aku ceritakan di blog aku sebelumnya klik disini , karena tiap kata punya artikel sendiri, ada kalimat yang huruf depannya besar, tetapi ada juga yang hurufnya kecil, dan gramatiknya itupun berbeda dengan Tense dalam bahasa Inggris. Karena terus terang passionku adalah di bahasa inggris yang sudah aku kuasai sejak kecil. Sementara Bahasa Jerman karena sekarang aku menetap di Jerman mau tidak mau harus bisa berkomunikasi menggunakan Deutsch, walaupun harus belajar lagi.

Terkadang struktur gramatik bahasa Jermanku benar, tetapi kalau aku sudah bicara agak cepat struktur gramatiknya salah. Walaupun begitu orang Jerman juga masih mengerti apa yang aku maksud dengan kalimatku tersebut. Memang Kita harus membiasakan diri berbicara bahasa Jerman dengan struktur gramatik yang benar maka lama-lama kita akan terbiasa. Aku bermasalah dalam mengucapkan kata yang diawali huruf Z dan S, seperti Zeimal (seharusnya dibaca seimal), atau Schule (dibaca zhule). Begitupun dengan pengucapan yang diawali huruf W, wann, (pengucapannya masih versi inggris, seharusnya w nya agak panjang pengucapannya).

Tetapi ya namanya juga belajar harus sering diulang-ulang terus, mendengar cara pengucapan dari online worterbuch langsung. Suamiku bertugas melakukan korigieren saat aku berkomunikasi dengannya, walaupun terkadang karena sering lupa terus dan banyak salah, silvio jadi males membiarkan struktur bahasaku yang salah (yang sabar ya mas londo, sebenernya istrimu ini sekarang sulit untuk menghafal dibanding jaman sekolah dulu, hahaha)

Aku mengikuti Integration Course sejak September 2016 sampai dengan Januari 2017. Dikelas kami harus berbicara in Deutsch, baik dengan unsere lehrerin oder mit unsere freunde. Setiap hari kami belajar dari senin sampai dengan jumat selama 4 jam. Terkadang aku ga mudeng dengan apa yang dikatakan guruku karena minimnya vocabulary yang aku punya, sementara teman-teman sudah lama tinggal di jerman dibandingkan aku yang baru 3 bulan dan gabung dikelas A2. Mau tidak mau aku harus berusaha terbiasa dengan situasi ini dan tentunya harus menambah perbendaharaan kata kalau tidak ingin jadi penonton.

Setelah menyelesaikan kursus selama 600 jam, aku diwajibkan untuk mengikuti DTZ Prüfung (Deutsch-Test für Zuwanderer) atau dengan kata lain Ujian test Bahasa Jerman untuk Imigran. Bobot penilaian untuk dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat B1 minimum 65% dari keseluruhan total hasil ujian yang terdiri dari 25% schreiben atau menulis, 25% lesen atau membaca, 25% hören atau mendengarkan, dan 25% Mündlich atau percakapan.

Sebelum Ujian berlangsung, satu bulan sebelum ujian pelajaran diisi dengan Prüfungstraining. Setiap hari kami training untuk lesen , schreiben, hören ataupun sprechen. Selama latihan soal sebulan ini, memang nilaiku baik dan hasilnya memenuhi kriteria lulus. Ada satu kejadian fatal yang menjadi pelajaran buat aku, aku berharap teman-teman memperhatikan hal yang menurut aku ini sepele, tapi sebenernya penting banget.

Sebelum mengikuti kursus ini, kita diberikan schedule atau zeitplan selama periode belajar. Baik kapan waktu belajar, kapan libur, dan kapan jadwal ujian dilaksanakan. Usahakan untuk memfoto copy jadwal ini dan disimpan dengan baik. Jangan seperti saya yang menganggap remeh tidak melakukan FC dan menyimpan jadwal, tetapi hanya mengingat-ingat saja, Yang fatal adalah aku mengira ujian Zertifikat B1 akan diselenggarakan bulan Februari, padahal ujian itu dilaksanakan bulan Januari, sementara aku belum belajar secara maksimal untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian. 3 hari sebelum ujian dilaksanakan aku baru tau bahwa 3 hari lagi ujian bukan dibulan Februari. Ya Tuhan Yang Maha Esa bagaimana bisa ini terjadi??????.

Bisa terbayang kan teman-teman betapa bodohnya aku, aku mengingat ujian dilaksanakan bulan Februari, memang betul ada ujian akhir di bulan Februari, tetapi bukan ujian Zertifikat B1 melainkan ujian Leben in Deutschland atau Orientierung prüfung. Beruntung selama libur Natal Kemarin aku sudah sedikit belajar latihan soal-soal ujian TELF, latihan soal-soal ujian Zertifikat B1 melalui online di google ataupun youtube. Paling tidak sudah ada persiapan walaupun tidak maksimal.

Ujian dilaksanakan di hari Jumat, dari 12 peserta kursus yang pada akhirnya bertahan sampai ujian ada 9 orang. Yang 4 orang tidak melanjutkan kursus, 2 orang merasa kesulitan akhirnya malas datang, 1 orang tidak serius ikut kursus, sering absen dibandingkan hadir, walaupun dia sebenernya cukup aktif dikelas, dan 1 orang kembali ke negaranya. Kami mendapat tambahan 1 orang Suriah yang bergabung dengan kemampuan bahasa Jerman yng cukup baik. Jadi total peserta kursus yang ikut ujian ada 9 orang.


Zertifikat B1

Saat Pelaksanaan Ujian Saat ujian kami duduk sendiri-sendiri sesuai denah yang dibuat, dan aku duduk paling belakang. Sebenernya aku lebih suka duduk didepan dibandingkan dikursi belakang. Setiap ujian ada 2 orang Prüferer, HP dan atribut tas dikumpulkan disatu tempat. Ujian pertama dimulai dengan : Hören selama 25 menit , dengan jumlah soal sebanyak 25 pertanyaan, waktu ikut ujian Zertifikat A1 soal diulang sebanyak 2 kali, tetapi di ujian B1 hanya diulang satu kali. Buat aku sebagai Auslander atau pendatang tentu saja kesulitan, ekstra dituntut konsentrasi penuh dan fokus pada setiap percakapan yang kita dengar, karena soal hanya dibacakan satu kali. kalau tidak konsentrasi hasilnya pasti kacau. Tempo berbicara di sini jauh lebih cepat dan gaya percakapannya agak sulit dimengerti, jadi jangan sampai kamu ngelewatin setiap bagian percakapan. Aku tidak yakin hasil hörenku bagus karena banyak yang salah setelah aku coba ingat-ingat untuk dikoreksi, hemmm kacau balau versi satu.

Lesen terdiri dari 5 Teile; teks mengenai Blog, artikel dalam Koran, mencocokan iklan, pernyataan setuju/tidak setuju, juga mengenai peraturan. Soalnya terdiri dari 25 pertanyaan dengan waktu hanya 45 menit. Saat mengerjakan Lessen aku berusaha untuk mendapatkan hasil yang baik, untuk menebus ketidakyakinanku di test Hören. Tapi aku kelamaan mengerjakan soal lesen di 10 soal awal, karena agak susah saya fokus banget dan habislah waktuku disitu sementara waktu tinggal 10 menit lagi dan masih ada 15 soal yang belum aku kerjakan. Hal ini terjadi karena aku tidak melihat tulisan yang ada di papan tulis bahwa waktu yang disediakan hanya 45 menit untuk 25 pertanyaan, jadi setiap soal kamu hanya dikasih waktu berfikir kurang dari 2 menit.

Entah karena duduk dibelakang aku tidak lihat dan mendengar perkataan prüferin, entah juga karena hamil jadi ga fokus. Karena panik aku berteriak-teriak didalam kelas Oh My God.......oh My God, semua teman melihat kearahku dikiranya aku mengalami kram perut. Pruferin berusaha menenangkan aku dengan menepuk-nepuk bahuku, khawatir kali yaa kalau terjadi sesuatu serius dengan kehamilanku karena aku panik. Ya sudah ku coba untuk menyelesaikan 15 soal yang belum aku kerjakan dengan sisa waktu yang hanya 10 menit (bisa dibayangkan aku tidak membaca secara detail, hanya kilat dan lebih pake feeling kali ya, hehehe.....). Aku lebih mencari maksudnya dengan melihat konteks yang ada, bener-bener kacau balau versi kedua.

Schreiben waktunya selama 30 menit, ujian ini ada 2 Teile cerita. Kami diminta untuk menulis e-mail dengan memilih salah satu dari 2 Teil yang ada. Aku menulis mengikuti poin-poin yang diminta dalam soal. Saat ujian Schreiben ada baiknya hindari repetisi kata, lihat grammatiknya juga. Pahami benar perintah saat ujian schreiben apa yang diminta menulis Email atau Brief (surat).

Ujian Sprechen terdiri dari 2 Teile. Di mana bagian pertama kita diuji untuk ngobrol dengan partner ujian kita (perkenalan atau vorstelung) , dan bagian kedua kita diuji bagaimana kita berbicara mengenai suatu topik. Untuk bisa lulus ujian ini, ada baiknya memang kita harus terbiasa berbicara dalam bahasa Jerman. Jangan banyak ‘mmm…anu…mmm’, biasa saja, pelan tapi terdengar dan jelas.

Setelah pelaksanaan Ujian Infomasi lulus tidaknya ujian diinformasikan via surat oleh Bundesamt für Migration dikirim ke Volkshocschule. Setelah 3 minggu hasilpun keluar, (agak lama ya). Kepala sekolah di Volkshochschule menginformasikan akan diumumkan hari kamis. Kami memang akan mengikuti Ujian Leben in Deutschland dihari kamis itu, dan setelah selesai rencananya akan diumumkan dan sekaligus penyerahan Zertifikat. Tetapi karena kami sangat kepikiran, dua hari sebelum pengumuman akhirnya kami ber4 menghadap kepala sekolah menanyakan apakah kami lulus atau tidak.

Dengan berbagai argumen dari kami akhirnya kepala sekolah memberikan info, dengan catatan apapun hasilnya tidak akan menggaggu ujian Orientierung Course. Dan ternyata dari 4 orang yang menghadap hanya aku yg lulus, dari 9 orang peserta 4 orang dinyatakan lulus dan 5 orang dinyatakan tidak lulus. Thanks My Jesus siibu hamil ini walaupun kacau balau kemarin, tetapi Puji Tuhan tetap bisa lulus. Jujur walaupun lulus hasilnya pas-pasan, tidak memuaskan untukku

Hasilnya jauh lebih baik pada saat latihan ujian. Tetapi ya karena kurang persiapan ditambah gugup,maka hasilnya tidak maksimal. Untuk Hören/ lesen saya tidak lulus, masuk kriteria A2 karena kurang satu poin lagi. Tapi mungkin karena nilai Schreiben dan Sprechennya lulus jadi tetap diperhitungkan untuk lulus Zertifikat B1. Aku tidak tahu kalau 2 point lulus tapi Hören aku kurang 3 nilai tetep lulus atau tidak. Stress juga kalau kurang 1 point di hören akhirnya saya tidak lulus dan harus mengulang 3 bulan lagi.Yang jelas untuk amannya kalian harus bisa mendampatkan minimal point untuk syarat kelulusan yang diminta. Teman Suriah saya sprechennya *wunderbar* sekali, sie hat 93 punkte aber nicht bestanden, ya karena itu hasil hören,lesen dan schreibennya dibawah rata-rata.

Zertifikat B1 Syarat kelulusan yang diminta untuk lulus Zertifikat B1;

Hören/Lesen : 33-45
Schreiben : 15-20
Sprechen : 75-100

Tips Persiapan Teknis menghadapi Ujian B1


  • Siapkan persayaratan Administrasi yang wajib di bawa , 
  • pensil 2B, dan penghapus. 
  • Datang lebih awal. 
  • Baca informasi awal di lembar pertama soal dengan cermat. Belajar dari pengalaman saya, Perhatikan waktu selesainya, bawa arloji untuk kontrol waktu. 
  • Untuk test Lesen, jangan terlalu lama berkutat pada setiap soal. Karena waktu yang disediakan hanya 2 menit untuk menjawab setiap soal
  • Untuk test Schreiben, pastikan semua point yang diminta terpenuhi. 
Saat ujian Zertifikat A1 di Indonesia, semua lembar jawaban dikumpulkan pada saat ujian selesai, tetapi di Ujian zertifikat B1 setiap selesai masing-masing materi, lembar jawaban langsung dikumpulkan, jadi tidak bisa membaca dan mengecek lagi apakah jawaban kita benar atau salah. Jadi memang Efisiensi waktu betul-betul harus diperhatikan.

Tips Persiapan Materi menghadapi Ujian B1


  • Sering latihan sendiri menggunakan contoh-contoh soal yang ada di Internet dan buku. 
  • Buat daftar kosakata yang sering kita lupa artinya dan tuliskan terjemahannya. 
  • Sering latihan menulis surat maupun Email Untuk ujian Sprechen, latihanlah bersama teman kursus jauh hari sebelumnya. 
  • Latihlah percakapanmu dalam berbagai macam kasus, untuk materi dapat dilihat di internet atau buku-buku latihan. 
  • Saat test berbicaralah perlahan namun jelas artikulasinya. 
Demikian sharingku saat melakukan persiapan dan pelaksanaan ujian. Semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman yang akan mengikuti Ujian Zertifikat B1. Jika ingin mengikuti update tulisanku kalian bisa klik dikolom Ikuti atau mensubcribe email kalian pada tampilan HOME diblogku.
Grüße